Diluar dugaan ternyata aktivitas outing bersama kantor kemarin merupakan aktivitas terakhir saya di bank terbesar milik pemerintah itu. Soalnya tidak lama kemudian terjadi restrukturisasi besar-besar yang menyebabkan tim saya dilebur. Posisi tawar saya memang kurang kuat (maklum masih pegawai outsourcing), sehingga saya harus rela di gabung dengan tim yang saya kurang sukai.
Tapi toh itu hanya beberapa lama. Karena akhirnya saya bener-bener gak betah. Suasana di tim baru itu tidak kondusif, dan jadilah saya memutuskan untuk berhenti dari pekerjaan sebagai pegawai bank itu. Lantas kemana akhirnya saya pindah kerja?
Kebetulan ada kawan saya yang sudah duluan pindah dan memberikan informasi adanya lowongan. Saya coba dan diterima. Tempatnya adalah perusahaan pemegang lisensi handphone terbesar di Indonesia. Tapi yah status sih masih tetep pegawai outsourcing!
Anyway fasilitas di tempat kerja ini lebih menyenangkan. Setidaknya saya dilengkapi dengan handphone-handphone tipe terbaru. Bahkan yang belum keluar di pasaran sekalipun. Jadi lumayan bisa bergaya sama kawan dan keluarga layaknya orang kaya yang punya banyak handphone. Padahal mah tugas saya memberi training ke pemilik toko untuk setiap produk baru yang saya pegang.
Apa setelah pindah dan meninggal segala hal tentang Icha berarti saya lupa juga? Apa sekarang saya bisa konsentrasi ke rencana pernikahan saya? Ternyata nggak! Kesenangan punya handphone baru itu justru ingin saya bagi sama Icha. Semua rasa senang dan bahagia ini rasanya pengen saya ceritakan sama dia.
icha.com/akhirnya-harus-berpisah/”>Dia resign saya gak bisa lupa! Saya resign juga gak lupa! Jadi harus gimana dounk?
