Sepertinya sedikit rasa grogi saya mulai hilang. Soalnya Icha sudah mulai terbuka soal urusan pribadinya. Paling tidak ini menunjukan sedikit rasa percaya sama saya toh. Ditambah lagi ia memuji bahwa saya orang yang paling bisa mengerti dirinya. Karena itu obrolan kami selanjutnya terasa ringan dan santai.
“jadi sekarang itu tugas lo di kantor baru apa sih?” tanya Icha sambil menghadapkan tubuhnya ke saya yang sedang menyetir.
“Yah ke toko-toko gitu lah, jelasin program dan kasih training kalo ada produk baru. Lumayan deh gue bisa pakai hape paling baru walaupun Cuma barang pinjeman buat training, kayak gini nih” kata saya sambil menunjukan hape yang ada di dashboard.
“Iya lucu juga tipis gini, kameranya pixelnya dah gede lagi yah?” katanya sambil mengambil hape itu dan sibuk mengutak-kutiknya.
“Pixelnya udah gede, lumayan kalo buat di bawa-bawa, ada meomori eksternalnya pula, jadi bisa simpen foto banyak” lanjut saya layaknya sedang memberi training.
“Oh gitu ya…gak percaya ah..cobain foto donk…sini foto sama gue!” Kata Icha santai sambil mendekatkan dirinya ke saya.Saat itu keadaan sedang macet jadi mobil sedang berhenti dan tangan saya bebas dari memegang setir.
“Jangan ada guenya deh, malu…ntar hasilnya jelek…” kata saya mencoba menghindar.
“Udah deh gitu ajah malu…ayo donk…” Icha sedikit menarik lengan saya.
Gerakannya kali ini membuat kami saling berdekatan. Wajah bundarnya yang selama ini membayangi saya kini begitu dekat. Matanya yang kemarin membuat saya terdiam kini bersebelahan dengan mata saya. Saya bisa merasakan helaan nafasnya.Saya bisa merasakan harum tubuhnya. She smell so nice, very tempting!
Sebersit khayalan meloncat dipikiran. Saya ingin meciumnya, saya ingin merasakan bibirnya yang sudah begitu dekat dengan bibir saya. I want to touch her face and give her a nice kiss
.“Dah selesai..gitu ajah malu bener” katanya memecah khayalan saya, rupanya pengambilan foto itu sudah selesai dilaksanakan.
“Bagus khan?” katanya lagi sambil menyerahkan hape itu kembali ke tangan saya.
“Iya bagus!” kata saya sambil memperhatikan hasil foto itu. Dan sejurus kemudian saya teringat sesuatu dan menekan tombol delete.
“Dihapus yah fotonya? Kenapa takut ketahuan calon istri?” tanya Icha sambil tersenyum simpul.
“Yah, kurang lebih begitu…” jawab saya singkat.
Dan obrolan kami pun kembali kaku seperti sedia kala.

