“Setelah dihitung, keluargaku gak setuju dengan tanggal yang kita rencanakan!” Begitu pacar saya membuka omongannya ketika itu.
Yup, ada satu hal yang belum saya ceritakan. Waktu saya ketemu Icha pertama kali waktu itu, saya bukan saja sudah memiliki pacar, tapi saya bahkan sudah punya rencana untuk menikahinya. Dan tiba-tiba di suatu malam di bulan maret itu:
“Tapi kita sudah bayar gedung, katering dan lainnya? Alasannya apa?” kata saya panik
“Tanggal itu tidak baik untuk melangsungkan pernikahan…kalau tetap di tanggal itu mereka gak akan setuju…” kata pacar saya kemudian dengan nada lemas.
“What?? Dan membatalkan semuanya begitu saja??” nada saya mulai sedikit meninggi.
“Katanya begitu…” lanjut pacar saya lagi dengan kepala tertunduk.
“Dan kamu setuju? Kita ini tidak boleh percaya hitung-hitungan seperti itu, keluargaku juga pasti tidak akan setuju kalau alasan pembatalannya seperti itu!” saya mulai terdengar ngotot.
“Jadi kalau tidak mau diubah, apa kamu lebih memilih membatalkan semuanya?” pacar saya itu mulai terdengar pasrah.
Tawaran itu tiba-tiba terdengar begitu menarik. Karena tepat di detik itu juga imajinasi saya melintaskan gambaran Icha. Selama ini tembok tinggi besar yang merintangi saya untuk mendekati Icha adalah status saya. Dan saya tidak mau meninggalkan pacar saya apalagi kami sudah punya rencana pernikahan. Tapi sekarang tawaran pembatalan itu datang. Bukan dari saya!
Teringat kembali hal-hal menarik dan konyol yang saya alami dengan Icha mulai dari obrolan di bagasi mobil itu, SMS dan pembantu saya, main billiard yang gak jelas, urusan suap-suapan romantis itu, sampai lihat genteng rumahnya yang begitu menarik. Rasanya ingin menghabiskan hidup saya dengan hal-hal konyol itu. Cinta dan kekonyolan sepertinya sebuah resep yang menarik untuk menjalani hidup.

“Jadi kamu mau dibatalin?” suara pacar saya membuyarkan semua lamunan saya.
Perlahan saya melihat ke arahnya. Ada bulir air mata yang tertahan yang di sana. Dan air mata itu pula yang kembali mengingatkan saya kenapa saya ingin menikahinya. Wanita yang kini berada di samping saya. Ia yang mengubah saya yang gagu dan kikuk di depan orang lain bisa bercerita sampai pagi dengannya. Ia yang sudah ada disisi saya sekian lama. Ia yang bisa terima saya yang gantengnya kadang-kadang (banget dan lebih sering nggak ganteng). Ia yang mau menikahi saya yang tidak mapan ini. Ia yang mau terima saya apa adanya.
Dammmnn…jahatnya saya sudah membandingkan satu wanita dengan yang lainnya. Sementara mereka adalah subyek dan bukan sebuah obyek. Mereka dengan kepribadiannya masing-masing yang unik.
“Kita pindahin tanggalnya!” kata saya kemudian dengan tegas.
“Maksud kamu? gak dibatalin? gimana dengan keluarga kamu?” tanyanya khawatir.
“Pilihannya adalah membuat pernikahan yang lebih sederhana karena uang kita kemungkinan hanya bisa balik setengahnya, kamu mau?” gantian saya yang bertanya.
Dan ia pun mengangguk setuju.
“Kita rencanakan lagi dari awal, kapan keluarga kamu maunya, nanti keluargaku biar aku yang urus, mereka pasti setuju kalau aku yang cari alasannya” kata saya tersenyum.
“Itu kenapa aku mau menikah sama kamu, kamu baik dan pengertian!” katanya kemudian.
Aku baik? Aku yang sempat memikirkan wanita lain bernama Icha ketika kita sedang merencanakan pernikahan ini kamu katakan baik?
Sayang semuanya cuma terlintas dipikiran saya. Dan hanya senyum yang menjadi komen saya untuk kalimat terakhir pacar saya.

{ 1 comment… read it below or add one }
jadi bingung harus bersikap gimana membaca cerita ini? Beneran gak sih ini cerita?