Sebenarnya saya agak ragu-ragu untuk ketemu dengan Icha lagi. Takutnya kalau ketemu lagi saya bisa benar-benar nekat menciumnya tanpa alasan. Lagi pula rencana pernikahan saya sudah mulai dekat, jadi rasa bimbang itu makin menguat.
Tapi toh saya tidak bisa benar-benar memutuskan hubungan dengannya begitu saja. Paling tidak untuk sekedr SMS atau telfon sih saya masih menghubunginya. Seperti juga hari kemarin.
“Besok musti ke Karawaci nih!” kata Icha di seberang sana.
”Ke Karawaci ngapain Ca?” tanya saya kemudian
”Ada panggilan kerja, masalahnya bokap Cuma bisa nganterin aja, sementara pulangnya sepertinya musti sendiri, soalnya bokap harus pergi lagi” katanya lagi.
Ding…dong….klimat terakhir Icha seperti merupakan ajakan untuk saya, refleks…
