Another date with Icha?

August 25, 2005

Sebenarnya saya agak ragu-ragu untuk ketemu dengan Icha lagi. Takutnya kalau ketemu lagi saya bisa benar-benar nekat menciumnya tanpa alasan. Lagi pula rencana pernikahan saya sudah mulai dekat, jadi rasa bimbang itu makin menguat.

Tapi toh saya tidak bisa benar-benar memutuskan hubungan dengannya begitu saja. Paling tidak untuk sekedr SMS atau telfon sih saya masih menghubunginya. Seperti juga hari kemarin.

“Besok musti ke Karawaci nih!” kata Icha di seberang sana.

”Ke Karawaci ngapain Ca?” tanya saya kemudian

”Ada panggilan kerja, masalahnya bokap Cuma bisa nganterin aja, sementara pulangnya sepertinya musti sendiri, soalnya bokap harus pergi lagi” katanya lagi.

Ding…dong….klimat terakhir Icha seperti merupakan ajakan untuk saya, refleks…

Read the full article →

Saya ingin sekali menciumnya

August 15, 2005

Sepertinya sedikit rasa grogi saya mulai hilang. Soalnya Icha sudah mulai terbuka soal urusan pribadinya. Paling tidak ini menunjukan sedikit rasa percaya sama saya toh. Ditambah lagi ia memuji bahwa saya orang yang paling bisa mengerti dirinya. Karena itu obrolan kami selanjutnya terasa ringan dan santai.

“jadi sekarang itu tugas lo di kantor baru apa sih?” tanya Icha sambil menghadapkan tubuhnya ke saya yang sedang menyetir.

“Yah ke toko-toko gitu lah, jelasin program dan kasih training kalo ada produk baru. Lumayan deh gue bisa pakai hape paling baru walaupun Cuma barang pinjeman buat training, kayak gini nih” kata saya sambil menunjukan hape yang…

Read the full article →

Buka-bukaan soal Icha

August 15, 2005

Setelah janjian kemarin, Hari itu saya berusaha untuk tampil lumayan oke. Sepertinya setengah botol minyak wangi saya habiskan supaya bisa tampil seger di depan Icha. Perasaan sama pacar sendiri saya gak pernah bertingkah laku seperti ini. Tapi yah cewek kecil satu itu memang punya daya tarik yang beda untuk saya.

Pagi-pagi saya sudah pergi dari rumah, berhubung daerah rumah Icha agak rawan macet. Saya gak mau dia menunggu terlalu lama. First impression matter man! Sayangnya entah kenapa hari itu jalanan ndak terlalu macet. Dari pada malu kepagian saya terpaksa nunggu di pinggir jalan agak jauh dari rumah Icha. Bareng sama adik-adik…

Read the full article →
</