Pacar saya pun tahu tentang Icha

by admire on February 2, 2005

I’m an open book if I’m in love, artinya dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat. Eh, itu mah men sana in corpore sano. Saya itu bisa ketebak banget kalo lagi jatuh cinta. Ibaratnya nenek rabun juga tahu kalo saya lagi demen sama orang lain.

Makanya saya paling gak bisa menyembunyikan perasaan termasuk sama pacar saya sekalipun. Ada satu ciri yang jelas (ciri ini juga konon dimiliki orang lain yang lagi jatuh cinta), saya sering menyebut nama orang yang saya sukai itu dalam situasi apapun.

sekedar catatan: teori ini tidak berlaku kalau saya sering menyebut nama saiful jamil, yang ini mah gak lebih dari rasa sebel karena tuh orang tampil di infotainment melulu. Bener koq!

how-to-fall-in-love

nah, ini juga rupanya yang terjadi pada saya dan kasus icha. Secara tidak sadar saya selalu menyebut namanya ketika ada dalam situasi tertentu. Misalnya:

Saya hampir keserempet mobil kijang: “waahhh..sial hampir ajah keserempet….warnanya ijo yah…mirip mobilnya si icha tuh…”

Saya denger orang ngomongin tentang kuliahnya: “iya tuh…si icha juga cerita…dia kemarin….”

Saya mau utang ke tukang teh botol: (*okay yang satu ini tidak mengingatkan saya kepada icha)

anyway, rupanya keadaan ini disadari oleh pacar saya. Maklum deh, kita khan udah pacaran lama jadi udah saling tahu kondisi masing-masing. Termasuk juga urusan cinta-cintaan begini.

Pacar saya: “Kamu itu aku perhatiin ngomongin icha terus deh?”

Saya: “masa sih?” Pasang tampang polos

Pacar saya: “Iyah, omongan kamu gak lepas dari seputar si icha melulu, kamu suka sama dia yah?”

Saya: “suka? yah kamu tahu tipe akulah, dan memang nih anak agak masuk kategori aku sih, tapi yah sejauh suka gitu ajah koq”

Kaget saya bisa begitu terus terang dengan pacar saya? Jangan heran, dari awal pacaran kami berusaha untuk saling terbuka. Kalau ternyata diujung perjalanan hubungan, kami bertemu orang lain, maka kami berdua akan saling mendukung. Makanya peristiwa saling cerita bahwa kita ketemu orang yang kita suka bukanlah yang pertama kali. Kami saling cemburu, tapi kami tak pernah menghalangi satu dan lainnya.

Saya sendiri gak sadar, mungkin intensitas bicara dan cerita saya tentang icha mulai membuat pacar saya khawatir. Karena itu dia penasaran ingin melihat langsung yang namanya icha itu. Tibalah suatu hari dimana pacar saya memutuskan ke kantor untuk melihat dengan mata kepalanya sendiri.

Kami duduk berdua sambil ngobrol dengan kawan-kawan yang lain. Waktu itu hendak mendekati sore, dan Icha turun dari tangga. Sudut mata saya langsung menangkap keberadaannya.

Saya: “itu yang namanya icha” kata saya berbisik kepada pacar saya

Icha pun lewat di depan kami. Tidak persis di depan karena posisi kami agak kepojok.

Pacar saya: “Oh itu toh!”

Saya: “Gimana menurut kamu?”

Pacar saya: “Yup! dia tipe kamu banget! Hati-hati yah…kemungkinan besar kamu bisa jatuh cinta yang dalam sama dia…” katanya sambil matanya tetap menatap Icha yang menghilang di kejauhan.

Hmmm…jarang-jarang nih pacar saya kasih peringatan begitu! Berarti cewek ini memang punya porsi lebih di hati saya!

Saya: “Tenang…saya udah punya kamu…dan Icha sendiri udah punya pacar koq”

Entah kalimat saya yang terakhir itu untuk menenangkan pacar saya atau justru untuk menentramkan perasaan hati saya yang gak tentu ini.

{ 2 comments… read them below or add one }

angga chen July 28, 2009 at 11:46 pm

mantap broo ceritanya…tapi saran aku kalo udah pacar, ya dirawat dan dijaga baik baik aja atuh….thanks ya

Reply

ratna July 31, 2009 at 1:01 am

Yup,bener banget..kalo pcr gw cerita ttg org itu mulu..gw pasti langsung nuduh dia suka,tapi skrg malah dia ga pernah crita ttg temen ceweknya sm sekali,coz takut dituduh suka..

Reply

Leave a Comment

Previous post: Saya gak bisa main billiard?!?

Next post: Is it a date? (Part1)

</