Menikah tidak menikah tidak menikah

by admire on September 15, 2005

Rasanya baru kemarin saya menyiapkan pesta pernikahan saya. Tidak terasa ternyata hari besar itu akan datang dalam hitungan minggu. Hari ini kami (saya dan calon istri) baru selesai pulang dari mengambil souvenir untuk resepsi kami nanti.

Kata orang sih makin dekat hari H, makin gak karuan pula perasaan calon mempelai. Itu kenapa buat yang mau menikah selalu dikasih wejangan oleh orang-orang tua, supaya semua berjalan lancar. Ibu saya juga berpesan yang sama.

“Kamu kalau menyebrang tengok kiri kanan, hati-hati hari pernikahannya udah dekat!” kata ibu saya berpesan.

Yah, walaupun saya gak sepenuhnya setuju dengan nasehat ini. Karena nasihat itu berarti pula setelah menikah saya kalo nyebrang boleh gak tengok kiri kanan dan langsung nyelonong kayak kebo. Dan kalo kesenggol mobil saya tinggal bilang “saya sudah nikah!”. Gak gitu juga khan?

Anyway, berbicara soal perasaan yang gak karuan, saya pun merasakaannya. Tapi perasaan yang satu ini aneh buat saya, karena masih melibatkan Icha yang sama sekali gak ada hubungannya dengan pernikahan saya. Okay, ini mungkin kedengerannya jahat, saya mau (bener-bener mau alias kepengen) menikah dengan calon istri saya ini, tapi entah kenapa saya masih aja mikirin si Icha.

Apa ini normal? Apa berarti saya jahat sama pacar saya? Apa mungkin pacar saya juga sedang memikirkan orang lain? Mungkin aja bener, jadi kita bisa diskusi soal yang satu ini. Makanya saya memberanikan diri untuk membuka omongan.

“Aku boleh tanya sesuatu gak?” kata saya membuka obrolan sambil menyetir pulang dari ambil souvenir.

“Hehehe…tumben pake nanya dulu, kenapa memangnya? Kata pacar saya sambil senyum-senyum.

“ehm..gimana yah…eh…ini gak penting sih…Cuma aku penasaran aja pengen tanya…” kata saya ragu-ragu.

“Ya iya mau tanya apa…”

“Gini…ehm…kita khan udah mau menikah sebentar lagi…apa kamu benar-benar udah yakin…ehm…maksudnya apa kamu gak lagi memikirkan cowok lain gitu?” tanya saya kemudian.

“Pertanyaan kamu aneh ah…ya jelas lah aku yakin, dan saat ini cuma kamu yang ada dipikiran aku”

DONG! PErnyataan itu mempertegas bahwa emang cuma saya yang bermasalah!

“Kamu sendiri gimana?” tanya pacar saya melanjutkan kalimatnya.

“Eh…ehm..aku?” saya makin gugup

“Iya donk, aku khan juga mau tahu kamu gimana? Apa sudah yakin? Apa masih mikirin cewek lain?” tanyanya dengan mata melirik sedikit nakal ke arah saya.

Saya gak berani jawab. Sebab kami pacaran sekian lama, dia tahu betul kalau saya sedang berbohong. Karena itu saya memilih diam. Dan mengutak-kutik tape mobil mencoba mengalihkan perhatian.

“Hey, aku khan tanya…kamu gimana?” tanyanya lagi sambil menyentuh tangan saya.

Saya menarik nafas sejenak…..

“Saat ini saya yakin mau menikah sama kamu…”

“tapi?” tanyanya menyambung kalimat saya kemudian

“Loh ya…gak ada tapi begitu aja…” kata saya ngeles.

“C’mon dear, kita pacaran udah lama, aku tahu kamu…paham yang kalo ada yang kamu pikirin…siapa cewek lain yang masih ada dipikiran kamu saat ini?”

DAMN! Skak mat! Saya gak bisa cari alasan lagi.

“Ehmm…Icha…” jawab saya pelan.

Saya bisa mendengar helaan nafas panjang pacar saya disebelah.

“Pertama aku lihat Icha, aku udah peringkatkan kamu untuk hati-hati, karena kamu bisa saja jatuh cinta sama dia, dan ternyata bener” katanya dengan senyum tertahan.

“Maaf…” Cuma itu yang keluar dari bibir saya.

“Gak…kamu gak perlu minta maaf. Perasaan khan gak bisa dibohongi” dia kembali menyentuh tangan saya “Gini aja, kamu ketemuin Icha, pastikan perasaan kamu dan dia. Kalau ternyata setelah itu perasaan kamu tetap ke aku…aku akan terima kamu sepenuhnya…tapi kalau nggak aku rela ngebatalin semuanya”

“Beneran?” tanya saya takjub.

“Iya…dear…kita berencana menghabiskan hidup bersama selamanya. Aku gak mau kalau kamu penasaran sama Icha selamanya….ayo selesaikan dulu perasaan kamu sama dia” katanya tersenyum begitu hangat.

Saya pun menyedari bahwa saya hendak menikah dengan wanita yang sangat baik dan mau mengerti saya. She is an angel! Dan saya tidak mau mengecewakannya, saya harus menyelesaikan rasa penasaran ini sama Icha. Dan jika ternyata perasaan saya memang lebih besar ke pacar saya, berarti memang she is the one!

Leave a Comment

Previous post: Baju itu untuk siapa?

</