Setelah setuju untuk menginap di villa milik Icha, saya dan teman-teman pun akhirnya berangkat dengan mobil kami sendiri. Kami tiba di tempat itu hampir tengah malam. Icha sendiri sudah tiba lebih dulu.
Sebuah villa yang lumayan apik. Berukuran sedang dan lumayan tampak nyaman untuk ditinggali. Setidaknya jauh lebih baik dari tempat kami menginap sebelumnya. Berhubung sudah tengah malam dan kami sudah agak lelah, Icha pun mempersilahkan kami untuk berisirahat. Semua berkumpul di ruang tengah.
Benar saja, tak lama kemudian semua kawan saya sudah tidur nyaman sentosa. Tapi saya belum bisa memejamkan mata. Memang dari SMA punya kecenderungan insomnia jadi agak susah tidur. Dan malam itu perut saya kebetulan ndak mau kompromi
Lagi pula saya agak deg-degan neh, saya tidur bareng Icha. Yah, not exactly ‘tidur’ dalam artian seperti di film-film barat itu. Tapi khan lumayan bikin grogi mengingat orang yang paling saya suka tidur hanya berjarak beberapa meter dari tempat saya. Karena itu perlahan saya melirik ke arahnya dalam keadaan ruangan yang gelap itu.
Mata saya menangkap sosok cowoknya Icha memegang selimut. Dengan lembut cowok itu menyelimutinya, dan keadaaan memang super duper dingin sih. Very romantic moment. Dia melindungi Icha bahkan ketika ia sudah tidur.
Terus terang saya pribadi awalnya agak meragukan icha.com/icha-punya-pacar/”>cowok satu itu. Masalahnya sebelum Icha masuk kantor kami, cowok itu punya reputasi yang kurang baik. Banyak kabar yang bilang kalau ia punya banyak wanita (alias playboy). Dulu rasanya ingin kasih tahu tentang hal ini ke Icha. Tapi yah siapa sayah?
Anyway, pemandangan malam itu agak mengubah persepsi saya. Momen selimut itu sepertinya menunjukan sisi yang lain dari cowok itu. Lagi pula selama ini saya hanya mendengar kabar toh tanpa pernah tahu bukti sebenarnya.
“Sepertinya Icha sudah punya orang yang tepat, setidaknya kalau saya tidak bisa memilikinya saya tahu bahwa dia punya orang yang menyayanginya” Pikir saya mendayu-dayu. Dan ketenangan itu membawa saya ke tidur yang lelap.
***
“Gue duduk situ donk geser dikit!”
Ujar Icha sambil duduk diantara saya dan cowoknya ketika akhirnya pagi sudah menjelang dan kami sedang duduk di muka villa. Terus terang saya agak kaget, asalnya ia bisa saja duduk disebelah cowoknya (dibanding duduk diantara kami berdua yang berarti ia ada di dekat saya).
“Nih minum hangat, biar perutnya enakan!” katanya lagi sambil menyodorkan minuman ke saya.
Perasaan saya makin tak menentu. Pertama ia memilih duduk di sebelah saya. Kedua Ia membawakan saya minuman. Kawan yang lain juga disediakan tapi hanya di taruh di meja. Hanya saya yang di bawakannya. Apa karena saya mengeluh tidak enak perut semalam? Atau memang karena…?
