Is it a date (part2)

by admire on February 12, 2005

“Gue udah di depan clusternya nih, terus kemana?”

Icha bertanya lewat telefonnya. Yup, setelah setuju untuk bergabung dengan kami melepas penat, Icha beberapa kali menghubungi saya untuk menanyakan arah. Ada dua kawan baiknya disini tapi dia memilih untuk tanya ke saya? Hmmm…lumayan bikin geer sih. Tapi mungkin juga ini bukan apa-apa mengingat yang mengajaknya adalah saya, jadi rasanya wajar kalau ia bertanya ke saya. Dan muka saya mungkin memang mirip penunjuk jalan ala DLLAJ.

“Masuk aja Cha, lurus mentok belok kanan, mentok lagi belok kiri, nanti ada mobil gue keliatan koq!” kata saya cepat.

Saya pun segera menunggu di depan rumah. Persis kayak anak umur tiga tahun yang baru dibelikan mainan dan gak sabar menunggu ayahnya pulang. Dari kejauhan saya bisa lihat mobilnya Icha. Pas di depan rumah Ia membuka kaca mobilnya.

“Parkir dimana nih?” tanyanya kemudian.

Posisi mobil memang asedikit ack-acakan waktu itu.

“Pararel aja Cha!” lanjut saya.

Icha pun langsung turun dari mobilnya begitu saja.

“Tolong parkirin donk!” pintanya dengan cuek kepada saya yang menunggu di depan.

Saya pun mengiyakan, dan menyerahkan nomer kepadanya. Eh bagian memberikan nomernya nggak deng, saya khan bukan valet parking. Tapi betul saya yang akhirnya memarkirkan mobil itu. Pikiran pun langsung teringat pesan ibu saya.

”Kepribadian seseorang itu bisa dinilai dari mobilnya loh!” kata ibu saya suatu waktu.

Sebelum ada yang salah sangka ibu saya bukan montir!

Anyway, begitu masuk mobil Icha, hmmm…harum pewangi mobil. Saya pun melontarkan pandangan sekeliling. Lumayan rapi, semua tertata walaupun nggak juga terlalu cewek banget. Tapi mobilnya bersih dan lumayan terawat koq. Dan mengingat pesan ibu saya bahwa mobil sesuai kepribadian pemiliknya, berarti Icha juga pakai pewangi mobil, mobil ini sesuai dengan Icha yang lumayan menjaga penampilan walaupun tidak juga layaknya cewek-cewek cheerleader yang kecentilan itu.

Akhirnya mobil pun terparkir rapi di tempatnya!

Di dalam Icha sudah duduk dengan santainya di lantai di depan televisi yang sedang memutar DVD norah jones. Saya memilih duduk di sofa dengan posisi di dekatnya agak kebelakang sedikit. Dari posisi ini saya bisa memperhatikan rambut Icha helai demi helainya. Nice! Seperti biasa Icha asik ngobrol dengan dua kawannya dan dua kawan saya. Sementara saya cuma sesekali menanggapi.

Tapi entah bagaimana ceritanya tiba-tiba hanya tersisa kami berdua di depan televisi. Aksi diam pun kembali terjadi. Masa sih udah di depan mata begini masih diem-dieman pikir saya dalam hati.

“Tadi susah nyari nih rumah Cha?” tanya saya membuka omongan basa-basi.

“Sebenarnya sih nggak juga, ada temen juga yang tinggal deket sini Cuma beda cluster, bingung nyari clusternya aja” Jawabnya tanpa mengalihkan pandangannya dari televisi yang menayangkan Norah Jones.

“Eh, haus deh…mau minum donk!” Icha tiba-tiba berbalik dan menatap langsung ke saya.

SERRR…darah saya turun ke jempol kaki diliatin kayak gitu.

“Disini self service Cha, ambil sendiri…maklum dia (saya menujuk kawan saya) tinggal sendiri jadi aturan nih rumah gak jelas“ kata saya kemudian.

“yah kalian khan udah biasa main, saya khan baru pertama jadi itungannya tamu kalian…mbok ya dijamu gitu…“ katanya sambil tertawa kecil.

“Siap deh Cha…mau minum apa dingin hangat….?“

“Apa aja deh…terserah…“

Saya bangkit dari duduk tanpa melepas pandangan saya ke Icha yang kembali asik nonton Norah Jones dan sudah tidak melihat saya lagi. Sambil berdiri saya menarik nafas panjang, dan…

“Bentar yah…“ kata saya sambil cepat menyentuh rambutnya Icha dengan lembut.

Huh menyentuhnya? Emang berani? Yup, gak tahu deh keberanian dari mana itu. Tapi saya menyentuhnya, sebenarnya tidak begitu romantis, menaruh telapak tangan saya cepat di atas kepalanya. Mungkin lebih mirip seorang guru yang memegang ujung kepala anaknya ketika di salamin mau pulang sekolah. Icha sendiri sepertinya tidak menyadari atau tidak ambil pusing akan hal ini. Namun itu sangat berarti buat saya.

I touch her for the first time!

PS: saya gak cuci tangan tiga hari karena itu!

Leave a Comment

Previous post: Is it a date? (Part1)

Next post: Is it a date? (Part 3)

</