Time flies when we were having fun! alias Waktu terasa begitu cepat kalau kita menikmatinya, kira-kira begitu kata pepatah. Itu pula yang saya rasakan pada ‘kencan’ bersama Icha hari itu. Saya yang begitu menikmatinya tidak sadar bahwa waktu sudah mulai beranjak malam. Dan saya baru tahu pula kalau cewek yang satu ini agak pilih-pilih kapan waktunya boleh pulang malam dan kapan tidak. Sayangnya hari itu bukan pilihannya untuk pulang larut (atau dia tidak menikmati hari ini sebagaimana saya menikmatinya?).
Anyway, saya yang masih ingin bersamanya agak tidak rela kalau hari ini berlalu begitu saja. Saya pun memikirkan berbagai jurus untuk bisa terus bersamanya.
“Jalan pulangnya tahu Cha?” Tanya saya sambil menghampirinya yang sudah standby di dalam mobil.
“Kalau lewat tol sana sih sebenarnya tahu, tapi kalau lewat belakang kompleks sebenarnya masih harus diinget juga, tapi tahu koq!” jawab Icha santai.
“Lewat belakang itu agak gelap sih dan sepi pula, kalau mau biar gue iringin ajah dari belakang siapa tahu lo nyasar” kata saya sambil dalam hati memanjatkan doa khusyuk pada Tuhan, Please God bikin dia mau dianterin saya…please…please…please….
“Ehm…sebenernya sih yah gak papa…tapi kalau memang elo udah mau pulang juga ya udah barengan aja toh searah khan”
Ding…dong…mantab!!!!
“Ya udah…bareng ajah bentar gue nyalain mobil…ntar lo di depan aja yah…”
Jadilah aksi pulang bareng itu kami lakoni. Cuma barengnya pake mobil iring-iringan. Tapi yang namanya kita lagi suka sama orang, cuma sekedar lihat papan plat nomer mobilnya dari belakang ajah kayaknya senengnya udah minta ampun. Tuh papan hitam putih keluaran Samsat koq keliatannya beda ajah kalo udah kayak gini!
“Halo…” Icha menelfon ke nomor saya begitu kami hampir sampai di sebuah perapatan besar dekat area rumah saya.
“Halo Cha…”
“Udah…kalo udah disini gue udah tinggal lurus-lurus aja koq…lagian jalannya udah ramai…rumah lo belok kiri khan?” tanya Icha di seberang sana.
“Gak apa-apa Cha…tanggung amat tinggal dikit lagi khan rumah lo, sekalian gue tahu rumah lo kalo gak keberatan?” lagi-lagi saya berdoa keras…Please God bikin dia mau dianterin saya…please…please…please….
“Gue sih gak keberatan…tapi elo yakin?” dari nadanya saya tahu Icha agak bingung.
Pasalnya itu perapatan gede banget dan dket pasar pula. Jam baru menunjukan pukul tujuh malam dan setelah perapatan itu areanya terang benderang dan dihiasi kendaraan lalu lalang sana sini. Rasanya alasan saya “menemai dijalan sepi dan gelap” sudah tak berlaku lagi.
“Iya udah tanggung…” Jawab saya tegas.
Mobil kami pun kembali beriringan. Tak sampai lima belas menit kami pun tiba di sebuah rumah. Icha meminggirkan mobilnya, keluar dari sana dan menghampiri mobil saya.
“Ini rumah gue, bentar ya gue parkirin dulu” katanya kemudian.
Saya pun menunggu bengong di dalam mobil. Mengamati mulai dari pagar sampai ujung genteng rumahnya. (saya juga bingung ini saya suka sama Icha atau mau garong rumahnya??).
“Mau mampir?” tanya Icha kemudian setelah selesai memarkir mobilnya dan masuk ke mobil saya.
“Eh..ehmm..gak deh…gue langsung aja…” kata saya panik karena grogi. Waduh, dasar deh sifat katrok saya mincul lagi.
“YAkin??”
“Iya..gue balik deh…”
“Ya udah…thanks ya udah dianterin…”
“Iya sama-sama”
Saya pun kembali menjalankan mobil. Dianterin beda mobil, begitu sampai rumah nggak turun juga, halaahh…payah bener deh saya!!
Dan pertanyaannya tetap sama: “Is it a date?”

{ 1 comment… read it below or add one }
wakakakak…sumpah gue ketawa baca yang genteng rumah itu…