We were having a great time! Paling tidak saya sih merasa demikian. Gak tahu juga deh Icha. Saya makin intens ngobrol dengan cewek satu ini. Dan satu hal, sepertinya sih selera humor saya dan dia sama.
Kurang lebih tiga jam kami menghabiskan waktu disana. Mulai dari ngobrol hal yang serius, bercanda, dengerin musik, sampai memasak. Memasak? Yup, meski tidak bisa dibilang sangat jago, tapi ternyata Icha bisa memasak juga. Jadi ceritanya kawan saya yang punya rumah itu sedang menyiapkan makanan untuk kami santap. Saya pun ikut membantunya sedikit.
“Hei, lagi ngapin sih?” tanya Icha yang tiba-tiba menyusul kami ke dapur.
“Eh Cha…ini lagi goreng daging asap…enak loh dibawa dari daerahnya dia…” kata saya sambil menunjuk kawan saya.
“Gue ikutan donk…”
“Gak usah Cha…bisa koq…udah lo balik ke depan ajah gak papa” kata saya yang kemudian diiyakan oleh kawan saya.
“Gue dikit-dikit bisa masak loh…khan di rumah juga gue suka bantu nyokap walaupun kadang-kadang…dah sini gue yang goreng” kata Icha cepat sambil mengambil sodet dari tangan kawan saya.
Oh iyah, ruangan dapur rumah kawan saya itu tidak begitu luas. Jadi jarak kami berdua begitu dekat. Persis seperti film India, dia berada di depan saya dan saya memperhatikan dibelakangnya lekat-lekat. Belum lagi adanya dukungan asap-asap yang memenuhi udara. Sayangnya kalau di film asapnya dari dry ice, sementara disini dari minyak goreng yang kena panas. Rasanya kedekatan ini akan begitu romantis kalau tidak disertai bau daging asap yang menyengat itu.
“Udah sana…lo tunggu depan ajah…susah nih sempit…” kata Icha lagi.
Saya pun dengan gak rela meninggalkan dapur dan asap-asap romantis walaupun bau daging itu. Selang 10 menit Icha pun meyusul kami di teras depan.
“Selesai….” Icha membawa daging asap yang sudah di taruhnya di piring.
“Nih cobain gorengan gue” katanya sambil tersenyum.
Icha menyodorkan dagingnya kepada saya.
“Masih panas gak?” saya mencoba mengambil garpu dari tangan Icha.
“Nggak udah nggak…dah nih cobain ajah…” Icha menepis pelan tangan saya dan hendak menyuapi saya.
“Enak khan?” tanyanya lagi sambil memperhatikan mimik muka saya.
“Enak Cha…bisa masak juga ternyata…”sambung saya cepat.
“Iya lah…” jawab Icha sambil tertawa penuh kemenangan.
Hmmmm….saya memang sudah jatuh cinta dengan daging asap ini sejak dikenalkan oleh kawan saya. Tapi kalau disajikannya dengan cara disuapi begini koq yah kayaknya saya jadi bener-bener doyan.
Mengutip kata-kata ibu saya lagi “Hatinya cowok itu terletak diperutnya!”
Walaupun kutipan itu pasti tidak disetujui oleh guru biologi manapun, tapi saya sendiri sangat setuju dengan ibu saya.
Coz I think I love her more since that day!
