<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Namanya Icha</title>
	<atom:link href="http://namanyaicha.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://namanyaicha.com</link>
	<description>The nurse of infidelity is sensuality</description>
	<lastBuildDate>Thu, 11 Mar 2010 16:18:31 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>The last date!</title>
		<link>http://namanyaicha.com/the-last-date-part-2/</link>
		<comments>http://namanyaicha.com/the-last-date-part-2/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 16 Sep 2005 16:17:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admire</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita lalu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://namanyaicha.com/?p=184</guid>
		<description><![CDATA[<p></p><p>Muka <a href="http://namanyaicha.com/siapa-icha/"title="icha" >Icha</a> terlihat serius<a href="http://namanyaicha.com/the-last-date/"> ketika menerima telefon itu</a>. Saya terus menjalankan mobil menuju rumahnya.</p>
<p>Icha: “orang rumah telfon, katanya ada cowok gue di rumah…”</p>
<p>Damn…cowok itu lagi. He is always stand between us. Padahal kalau saja gak ada telefon itu saya bakal bilang terang-terangan ke Icha, kalau saya suka sama dia.</p>
<p>Saya: “owh okay…gue anter lo pulang”</p>
<p>Icha: “tapi kalau elo masih mau jalan, gak apa-apa…dia bisa nunggu khan”<br />
Saya menarik nafas panjang. Tetep saja Icha berharap cowok itu menunggunya di rumah. Mungkin lain ceritanya kalau dia bilang,</p>
<p>“gue juga gak suka sama dia, bau ketek!”</p>
<p>Atau</p>
<p>“gue gak mau sama dia, soalnya mirip anwar fuadi”</p>
<p>Atau kalimat-kalimat sejenis yang bikin&#8230;</p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><p>Muka <a href="http://namanyaicha.com/siapa-icha/"title="icha" >Icha</a> terlihat serius<a href="http://namanyaicha.com/the-last-date/"> ketika menerima telefon itu</a>. Saya terus menjalankan mobil menuju rumahnya.</p>
<p>Icha: “orang rumah telfon, katanya ada cowok gue di rumah…”</p>
<p>Damn…cowok itu lagi. He is always stand between us. Padahal kalau saja gak ada telefon itu saya bakal bilang terang-terangan ke Icha, kalau saya suka sama dia.</p>
<p>Saya: “owh okay…gue anter lo pulang”</p>
<p>Icha: “tapi kalau elo masih mau jalan, gak apa-apa…dia bisa nunggu khan”<br />
Saya menarik nafas panjang. Tetep saja Icha berharap cowok itu menunggunya di rumah. Mungkin lain ceritanya kalau dia bilang,</p>
<p>“gue juga gak suka sama dia, bau ketek!”</p>
<p>Atau</p>
<p>“gue gak mau sama dia, soalnya mirip anwar fuadi”</p>
<p>Atau kalimat-kalimat sejenis yang bikin ilfil lainnya, mungkin saya akan percaya diri untuk bilang saya suka sama dia. Tapi sayangnya nggak. Cowok itu ada dan akan selalu ada dipikirannya. Sama seperti Icha yang ada di pikiran saya.</p>
<p>Saya: “gak apa-apa Cha…elo gue anterin pulang aja, gue gak mau elo jadi berantem sama dia gara-gara gue”</p>
<p>Icha: “ya udah gue di depan jalan aja gak usah masuk ke dalem”</p>
<p>Saya: “loh kenapa?”</p>
<p>Icha: “dia juga suka marah kalau gue cerita tentang elo, apalagi kalau kita jalan begini” kata Icha cepat.</p>
<p>Dan mobil saya tepat tiba di depan jalan rumah Icha.</p>
<p>Saya: “thank you ya Cha…for everything&#8230;”</p>
<p>Icha: “sama-sama…nanti jadi suami orang yang baik yah…”</p>
<p>Saya pun tersenyum mendengar kalimat itu.</p>
<p>Saya: “oh ya…besok gue balik ke rumah elo anterin undangan yah”</p>
<p>Icha: “okay, gue tunggu yah…”</p>
<p>Pintu mobil tertutup dan Icha pun pergi berlalu. God I’m sure gonna miss her so much!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://namanyaicha.com/the-last-date-part-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>The last date?</title>
		<link>http://namanyaicha.com/the-last-date/</link>
		<comments>http://namanyaicha.com/the-last-date/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 16 Sep 2005 15:50:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admire</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita lalu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://namanyaicha.com/?p=181</guid>
		<description><![CDATA[<p></p><p style="text-align: justify;">Jadi gimana soal <a href="http://namanyaicha.com/menikah-tidak-menikah-tidak-menikah/">meyakinkan diri menuju ke gerbang pernikahan</a> yang kemarin saya bicarakan dengan pacar saya? Well, hari ini saya jalan dengan Icha dengan niatan untuk menuntustakan rasa penasaran saya. Is not exactly a date, karena saya hanya menjemputnya dan sekarang sedang dalam perjalanan pulang di mobil. Tapi saya tidak bisa berkata apapun tentang perasaan saya. Sampai,</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://namanyaicha.com/siapa-icha/"title="icha" >Icha</a>: “gimana persiapan pernikahan lo?”</p>
<p style="text-align: justify;">Booomm…she hit the right line. Ini momen yang saya tunggu dari tadi.</p>
<p style="text-align: justify;">Saya: “udah rampung semua sih, tinggal dijalanin di hari H ajah”</p>
<p style="text-align: justify;">Icha: “wah asyik dong yah, tinggal duduk dipelaminan deh…cieee…”</p>
<p style="text-align: justify;">Saya: “ well, is not exactly that simple…” kata saya dengan sedikit&#8230;</p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><p style="text-align: justify;">Jadi gimana soal <a href="http://namanyaicha.com/menikah-tidak-menikah-tidak-menikah/">meyakinkan diri menuju ke gerbang pernikahan</a> yang kemarin saya bicarakan dengan pacar saya? Well, hari ini saya jalan dengan Icha dengan niatan untuk menuntustakan rasa penasaran saya. Is not exactly a date, karena saya hanya menjemputnya dan sekarang sedang dalam perjalanan pulang di mobil. Tapi saya tidak bisa berkata apapun tentang perasaan saya. Sampai,</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://namanyaicha.com/siapa-icha/"title="icha" >Icha</a>: “gimana persiapan pernikahan lo?”</p>
<p style="text-align: justify;">Booomm…she hit the right line. Ini momen yang saya tunggu dari tadi.</p>
<p style="text-align: justify;">Saya: “udah rampung semua sih, tinggal dijalanin di hari H ajah”</p>
<p style="text-align: justify;">Icha: “wah asyik dong yah, tinggal duduk dipelaminan deh…cieee…”</p>
<p style="text-align: justify;">Saya: “ well, is not exactly that simple…” kata saya dengan sedikit ragu sambil melirik ke Icha.</p>
<p style="text-align: justify;">Icha: “Kenapa? Masih ada yang belum selesai?”</p>
<p style="text-align: justify;">Saya: “Kemaren tanya ke pacar gue, apa masih ada orang lain selain gue di pikirannya…”<br />
Icha: “trus?”</p>
<p style="text-align: justify;">Saya: “dia bilang gak ada…dia malah nanya balik…”</p>
<p style="text-align: justify;">Icha: “trus lo jawab apa?”</p>
<p style="text-align: justify;">Saya: “ada”</p>
<p style="text-align: justify;">Icha: “Hah? Lo bilang gitu? Gila lo, trus gimana?”</p>
<p style="text-align: justify;">Saya: “yah gue bilang masih ada yang gue pikirin, namanya Icha”</p>
<p style="text-align: justify;">Icha: “gue? Emang gue kenapa?” tanyanya menyelidik.<span id="more-181"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Saya: “gak tahu ya…cha…gue sih ngerasa nyaman ajah sama elo, gue suka jalan sama lo dan terus terang gue gak bisa berhenti mikirin itu”</p>
<p style="text-align: justify;">Icha: “hmm…gue juga merasa nyaman sih jalan sama lo. Gue suka banget karena lo bisa mengerti gue, karena gue orang yang susah dimengerti. Bahkan cowok gue yang sering ketemu ajah gak pernah bisa ngerti isi pikiran gue. Tapi elo bisa bicara banyak tentang gue, padahal kita jarang ngobrol, dan gue suka itu”</p>
<p style="text-align: justify;">Perjalan kami pun makin memendek. Saya berharap rumah Icha ada di luar kota yang butuh waktu dua atau tiga jam lagi untuk sampai.</p>
<p style="text-align: justify;">Saya: “Makanya itu pas ditanya…gue jujur bilang sama pacar gue kalo elo masih ada dipikiran gue”</p>
<p style="text-align: justify;">Icha: “yah..setelah lo menikah khan kita masih bisa ketemuan. Sesama temen kita masih bisa ketemuan, gue banyak koq punya temen cowok yang udah menikah dan kita masih ketemuan, anak istrinya malah diajak juga”</p>
<p style="text-align: justify;">Bukan itu maksud gue Cha! Gue maunya elo kasih tanda bahwa elo orang yang tepat buat gue. Dan apakah gue harus membatalkan pernikahan gue atau nggak. Just give a little sign, dan gue akan ngebatalin semuanya. Begitu kata saya dalam hati.</p>
<p style="text-align: justify;">Saya: “tapi sepertinya gak bisa begitu…” kata saya lemah</p>
<p style="text-align: justify;">Icha: “maksudnya?”</p>
<p style="text-align: justify;">Saya: “gue rasa gue gak bisa jalan dengan lo lagi sesudah menikah nanti”</p>
<p style="text-align: justify;">Icha: “loh kenapa? Dilarang sama calon istri elo?”</p>
<p style="text-align: justify;">Saya: “nggak, gue cuma mau memantapkan hati sesudah menikah dan gak akan bisa kalo elo masih tetep ada dipikiran gue”</p>
<p style="text-align: justify;">Icha: “loh kita khan temenan, apa yang salah?”</p>
<p style="text-align: justify;">Yang salah itu karena gue gak mau kita temenan Cha. Gue itu suka sama elo! Lagi-lagi saya pengecut dan Cuma bilang itu dalam hati.</p>
<p style="text-align: justify;">Saya: “yah, gak bisa ajah…makanya gue sebenernya mau menghabiskan hari ini dengan elo, yah anggap ajah perpisahan”<br />
mobil saya pun makin mendekat ke area rumah Icha.</p>
<p style="text-align: justify;">Icha: “Kenapa elo gak bilang dari tadi? Ya udah kita jalan lagi aja…”</p>
<p style="text-align: justify;">Kalimat Icha terputus…handphonenya berbunyi…</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://namanyaicha.com/the-last-date/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menikah tidak menikah tidak menikah</title>
		<link>http://namanyaicha.com/menikah-tidak-menikah-tidak-menikah/</link>
		<comments>http://namanyaicha.com/menikah-tidak-menikah-tidak-menikah/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 15 Sep 2005 20:45:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admire</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita lalu]]></category>
		<category><![CDATA[rencana pernikahan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://namanyaicha.com/?p=164</guid>
		<description><![CDATA[<p></p><p style="text-align: justify;">Rasanya baru kemarin saya menyiapkan pesta pernikahan saya. Tidak terasa ternyata hari besar itu akan datang dalam hitungan minggu. Hari ini kami (saya dan calon istri) baru selesai pulang dari mengambil souvenir untuk resepsi kami nanti.</p>
<p style="text-align: justify;">Kata orang sih makin dekat hari H, makin gak karuan pula perasaan calon mempelai. Itu kenapa buat yang mau menikah selalu dikasih wejangan oleh orang-orang tua, supaya semua berjalan lancar. Ibu saya juga berpesan yang sama.</p>
<p style="text-align: justify;">“Kamu kalau menyebrang tengok kiri kanan, hati-hati hari pernikahannya udah dekat!” kata ibu saya berpesan.</p>
<p style="text-align: justify;">Yah, walaupun saya gak sepenuhnya setuju dengan nasehat ini. Karena nasihat itu berarti pula setelah menikah&#8230;</p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><p style="text-align: justify;">Rasanya baru kemarin saya menyiapkan pesta pernikahan saya. Tidak terasa ternyata hari besar itu akan datang dalam hitungan minggu. Hari ini kami (saya dan calon istri) baru selesai pulang dari mengambil souvenir untuk resepsi kami nanti.</p>
<p style="text-align: justify;">Kata orang sih makin dekat hari H, makin gak karuan pula perasaan calon mempelai. Itu kenapa buat yang mau menikah selalu dikasih wejangan oleh orang-orang tua, supaya semua berjalan lancar. Ibu saya juga berpesan yang sama.</p>
<p style="text-align: justify;">“Kamu kalau menyebrang tengok kiri kanan, hati-hati hari pernikahannya udah dekat!” kata ibu saya berpesan.</p>
<p style="text-align: justify;">Yah, walaupun saya gak sepenuhnya setuju dengan nasehat ini. Karena nasihat itu berarti pula setelah menikah saya kalo nyebrang boleh gak tengok kiri kanan dan langsung nyelonong kayak kebo. Dan kalo kesenggol mobil saya tinggal bilang “saya sudah nikah!”. Gak gitu juga khan?</p>
<p style="text-align: justify;">Anyway, berbicara soal perasaan yang gak karuan, saya pun merasakaannya. Tapi perasaan yang satu ini aneh buat saya, karena masih melibatkan <a href="http://namanyaicha.com/siapa-icha/"title="icha" >Icha</a> yang sama sekali gak ada hubungannya dengan pernikahan saya. Okay, ini mungkin kedengerannya jahat, saya mau (bener-bener mau alias kepengen) menikah dengan calon istri saya ini, tapi entah kenapa saya masih aja mikirin si Icha.</p>
<p style="text-align: justify;">Apa ini normal? Apa berarti saya jahat sama pacar saya? Apa mungkin pacar saya juga sedang memikirkan orang lain? Mungkin aja bener, jadi kita bisa diskusi soal yang satu ini. Makanya saya memberanikan diri untuk membuka omongan.<span id="more-164"></span></p>
<p style="text-align: left;"></p>
<p style="text-align: justify;">“Aku boleh tanya sesuatu gak?” kata saya membuka obrolan sambil menyetir pulang dari ambil souvenir.</p>
<p style="text-align: justify;">“Hehehe…tumben pake nanya dulu, kenapa memangnya? Kata pacar saya sambil senyum-senyum.</p>
<p style="text-align: justify;">“ehm..gimana yah…eh…ini gak penting sih…Cuma aku penasaran aja pengen tanya…” kata saya ragu-ragu.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ya iya mau tanya apa…”</p>
<p style="text-align: justify;">“Gini…ehm…kita khan udah mau menikah sebentar lagi…apa kamu benar-benar udah yakin…ehm…maksudnya apa kamu gak lagi memikirkan cowok lain gitu?” tanya saya kemudian.</p>
<p style="text-align: justify;">“Pertanyaan kamu aneh ah…ya jelas lah aku yakin, dan saat ini cuma kamu yang ada dipikiran aku”</p>
<p style="text-align: justify;">DONG! PErnyataan itu mempertegas bahwa emang cuma saya yang bermasalah!</p>
<p style="text-align: justify;">“Kamu sendiri gimana?” tanya pacar saya melanjutkan kalimatnya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Eh…ehm..aku?” saya makin gugup</p>
<p style="text-align: justify;">“Iya donk, aku khan juga mau tahu kamu gimana? Apa sudah yakin? Apa masih mikirin cewek lain?” tanyanya dengan mata melirik sedikit nakal ke arah saya.</p>
<p style="text-align: justify;">Saya gak berani jawab. Sebab kami pacaran sekian lama, dia tahu betul kalau saya sedang berbohong. Karena itu saya memilih diam. Dan mengutak-kutik tape mobil mencoba mengalihkan perhatian.</p>
<p style="text-align: justify;">“Hey, aku khan tanya…kamu gimana?” tanyanya lagi sambil menyentuh tangan saya.</p>
<p style="text-align: justify;">Saya menarik nafas sejenak…..</p>
<p style="text-align: justify;">“Saat ini saya yakin mau menikah sama kamu…”</p>
<p style="text-align: justify;">“tapi?” tanyanya menyambung kalimat saya kemudian</p>
<p style="text-align: justify;">“Loh ya…gak ada tapi begitu aja…” kata saya ngeles.</p>
<p style="text-align: justify;">“C’mon dear, kita pacaran udah lama, aku tahu kamu…paham yang kalo ada yang kamu pikirin…siapa cewek lain yang masih ada dipikiran kamu saat ini?”</p>
<p style="text-align: justify;">DAMN! Skak mat! Saya gak bisa cari alasan lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ehmm…Icha…” jawab saya pelan.</p>
<p style="text-align: justify;">Saya bisa mendengar helaan nafas panjang pacar saya disebelah.</p>
<p style="text-align: justify;">“Pertama aku lihat Icha, aku udah peringkatkan kamu untuk hati-hati, karena <a href="http://namanyaicha.com/pacar-saya-pun-tahu-tentang-icha/">kamu bisa saja jatuh cinta sama dia</a>, dan ternyata bener” katanya dengan senyum tertahan.</p>
<p style="text-align: justify;">“Maaf…” Cuma itu yang keluar dari bibir saya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Gak…kamu gak perlu minta maaf. Perasaan khan gak bisa dibohongi” dia kembali menyentuh tangan saya “Gini aja, kamu ketemuin Icha, pastikan perasaan kamu dan dia. Kalau ternyata setelah itu perasaan kamu tetap ke aku…aku akan terima kamu sepenuhnya…tapi kalau nggak aku rela ngebatalin semuanya”</p>
<p style="text-align: justify;">“Beneran?” tanya saya takjub.</p>
<p style="text-align: justify;">“Iya…dear…kita berencana menghabiskan hidup bersama selamanya. Aku gak mau kalau kamu penasaran sama Icha selamanya….ayo selesaikan dulu perasaan kamu sama dia” katanya tersenyum begitu hangat.</p>
<p style="text-align: justify;">Saya pun menyedari bahwa saya hendak menikah dengan wanita yang sangat baik dan mau mengerti saya. She is an angel! Dan saya tidak mau mengecewakannya, saya harus menyelesaikan rasa penasaran ini sama Icha. Dan jika ternyata perasaan saya memang lebih besar ke pacar saya, berarti memang she is the one!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://namanyaicha.com/menikah-tidak-menikah-tidak-menikah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Baju itu untuk siapa?</title>
		<link>http://namanyaicha.com/baju-itu-untuk-siapa/</link>
		<comments>http://namanyaicha.com/baju-itu-untuk-siapa/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 26 Aug 2005 17:54:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admire</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita lalu]]></category>
		<category><![CDATA[sepatu cewek]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://namanyaicha.com/?p=158</guid>
		<description><![CDATA[<p></p><p style="text-align: justify;">Setelah <a href="http://namanyaicha.com/baju-hitam-dan-ayam-goreng-sexy/">makan</a>, berikutnya adalah departemen store. Khususnya di area sepatu.</p>
<p style="text-align: justify;">“Bagus gak?” tanyanya sambil menunjukan sebuah sepatu.</p>
<p style="text-align: justify;">Kenapa yah cewek tuh seneng banget nanya pendapat cowok tentang peralatan mereka. Padahal kita tahu apa sih? Saya itu milih sandal jepit ajah ndablek. Apalagi dimintai pendapat soal sepatu perempuan.</p>
<p style="text-align: justify;">“Bagus…” jawab saya sambil tersenyum.</p>
<p style="text-align: justify;">“Kalau yang ini?” tanyanya lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">”Bagus&#8230;” jawaban saya persis sama.</p>
<p style="text-align: justify;">”Bagusan yang mana?” tanyanya sambil menyodorkan keduanya.</p>
<p style="text-align: justify;">”Ehmm&#8230;yang mana yah? Dua-duanya bagus sih&#8230;gue gak biasa milih-milih gini Cha&#8230;” jawab saya tanpa solusi berarti.</p>
<p style="text-align: justify;">”Sama sih, Gue tuh kalo belanja gak kayak cewek lainnya koq, biasanya cepet aja malah kadang dibeliin nyokap atau bokap. Malah sama cowok&#8230;</p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><p style="text-align: justify;">Setelah <a href="http://namanyaicha.com/baju-hitam-dan-ayam-goreng-sexy/">makan</a>, berikutnya adalah departemen store. Khususnya di area sepatu.</p>
<p style="text-align: justify;">“Bagus gak?” tanyanya sambil menunjukan sebuah sepatu.</p>
<p style="text-align: justify;">Kenapa yah cewek tuh seneng banget nanya pendapat cowok tentang peralatan mereka. Padahal kita tahu apa sih? Saya itu milih sandal jepit ajah ndablek. Apalagi dimintai pendapat soal sepatu perempuan.</p>
<p style="text-align: justify;">“Bagus…” jawab saya sambil tersenyum.</p>
<p style="text-align: justify;">“Kalau yang ini?” tanyanya lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">”Bagus&#8230;” jawaban saya persis sama.</p>
<p style="text-align: justify;">”Bagusan yang mana?” tanyanya sambil menyodorkan keduanya.</p>
<p style="text-align: justify;">”Ehmm&#8230;yang mana yah? Dua-duanya bagus sih&#8230;gue gak biasa milih-milih gini Cha&#8230;” jawab saya tanpa solusi berarti.</p>
<p style="text-align: justify;">”Sama sih, Gue tuh kalo belanja gak kayak cewek lainnya koq, biasanya cepet aja malah kadang dibeliin nyokap atau bokap. Malah sama cowok gue itu lebih gila shopping dia dibanding gue. Lo tahu khan dia seneng banget tampil bagus. Biasanya lamaan dia belanja dari gue” kata <a href="http://namanyaicha.com/siapa-icha/"title="icha" >Icha</a> sambil tetawa kecil.<span id="more-158"></span></p>
<p style="text-align: justify;">”Sinian donk gue mau nyoba nih&#8230;biar cepet aja males kalo duduk” Icha menarik tangan saya.</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan tetap berdiri, satu tangannya mengenakan sepatu ke kakinya. Sementara tangan yang lainnya memegang tangan saya untuk menjaganya tetap stabil berdiri dengan satu kaki menapak.</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://namanyaicha.com/icha/wp-content/uploads/2009/12/sepatu-cewek.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-159" title="sepatu-cewek" src="http://namanyaicha.com/icha/wp-content/uploads/2009/12/sepatu-cewek.jpg" alt="sepatu-cewek" width="300" height="300" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">Buat orang lain ini mungkin sekedar aktivitas nyoba sepatu biasa. Tapi buat saya, touching her hand, standing so close to her. Feel her inside me. Kalau di film-film barat klasik  mungkin ini saatnya kami berpelukan mesra. Plus muter-muter di bawah pohon (eh kalo ini film India deng!).</p>
<p style="text-align: justify;">It’s only take not more than one minute. But its take my breath away.</p>
<p style="text-align: justify;">“Kegedean yah!” katanya sambil melepaskan kembali sepatunya sekaligus genggaman tangannya.</p>
<p style="text-align: justify;">”Dah yuk&#8230;gak jadi deh beli sepatunya” katanya kemudian baru kami beranjak ”eh sebentar deh&#8230;”</p>
<p style="text-align: justify;">Icha menghentikan langkahnya di area kemeja pria. Ia terlihat memilih-milih yang ada dibagian paling depan.</p>
<p style="text-align: justify;">”Bagus gak?” Ia bertanya sambil memperlihatkan sebuah kemeja bergaris-garis.</p>
<p style="text-align: justify;">”Bagus&#8230;” lagi-lagi jawaban sama dari saya.</p>
<p style="text-align: justify;">”Ini ukurannya apa yah? Coba balik” Ia membalikan badan saya dan menaruh kemeja itu di punggung saya untuk mengukur.</p>
<p style="text-align: justify;">Wah Icha mau beliin saya kemeja nih ceritanya. Gak perlu segitunya koq Cha, jalan sama elo ajah udah bikin gue seneng. Gak usah dibeliin apa-apa, lagian ini khan Cuma menjemput ajah. Pikir saya dalam hati sambil senyum-senyum sendiri.</p>
<p style="text-align: justify;">”Pas gak sih menurut lo?” tanyanya lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">”Pas&#8230;sih&#8230;” saya nyengir kuda.</p>
<p style="text-align: justify;">”Modelnya bagus khan? Lo suka gak?”</p>
<p style="text-align: justify;">Ah kalo dibeliin elo sih apa juga gue suka Cha. Gumam saya dalam hati.</p>
<p style="text-align: justify;">“Suka lah&#8230;” jawab saya singkat.</p>
<p style="text-align: justify;">”Ya udah deh&#8230;ini ajah&#8230;”</p>
<p style="text-align: justify;">Ia pun menuju ke kasir sementara saya mengikutinya dari belakang. Setelah selesai membayar, ia kembali menghampiri.</p>
<p style="text-align: justify;">”Eh..tolong pegangin dulu donk, mau masukin kembaliannya nih” Ia menyerahkan bungkusan kemeja itu ke saya.</p>
<p style="text-align: justify;">Hmmm&#8230;koq tolong peganging dulu yah? Udah dikasih ajah langsung kenapa? Atau jangan-jangan&#8230;.</p>
<p style="text-align: justify;">”Ni kemeja buat siapa sih Cha?” tanya saya menyelidik</p>
<p style="text-align: justify;">”Buat cowok gue, dia bilang udah gak punya kemeja ukurannya sama elo gak beda jauh khan&#8230;”</p>
<p style="text-align: justify;">DAAAMMN&#8230;satu orang tertipu sodara-sodara!!!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://namanyaicha.com/baju-itu-untuk-siapa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Baju hitam dan ayam goreng sexy</title>
		<link>http://namanyaicha.com/baju-hitam-dan-ayam-goreng-sexy/</link>
		<comments>http://namanyaicha.com/baju-hitam-dan-ayam-goreng-sexy/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 26 Aug 2005 17:16:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admire</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita lalu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://namanyaicha.com/?p=156</guid>
		<description><![CDATA[<p></p><p><em>Ca kalau udah selesai, telfon gue yah. Gue udah sampai karawaci nih.</em></p>
<p>Saya mengirimkan SMS itu ke <a href="http://namanyaicha.com/siapa-icha/"title="icha" >Icha</a> ketika sudah di area parkir Mal Karawaci, tempat kami <a href="http://namanyaicha.com/kencan-sama-icha/">janjian setelah Icha di wawancara</a>. Tak sampai setengah jam handphone saya berbunyi.</p>
<p>”Halo Cha&#8230;udah kelar?” tanya saya.</p>
<p>”udah&#8230;lo dah sampai yah?”</p>
<p>”udah&#8230;lo dimananya?”</p>
<p>”Ketemuan deket twenty one aja! Gue disitu!”</p>
<p>Tutup telfon. Nyisir-nyisir dikit kayak pemain film jaman dulu. Nyengir kuda di depan spion mobil sambil pamer gigi berusaha setting senyum kalau nanti ketemu Icha. Sepertinya sih udah okeh. Saya pun beranjak meninggalkan mobil.</p>
<p>Begitu sampai di depan 21&#8230;I saw her&#8230;</p>
<p>Black dress, with a short skirt&#8230;saya selalu mengasosiasikan warna hitam dengan&#8230;</p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><p><em>Ca kalau udah selesai, telfon gue yah. Gue udah sampai karawaci nih.</em></p>
<p>Saya mengirimkan SMS itu ke <a href="http://namanyaicha.com/siapa-icha/"title="icha" >Icha</a> ketika sudah di area parkir Mal Karawaci, tempat kami <a href="http://namanyaicha.com/kencan-sama-icha/">janjian setelah Icha di wawancara</a>. Tak sampai setengah jam handphone saya berbunyi.</p>
<p>”Halo Cha&#8230;udah kelar?” tanya saya.</p>
<p>”udah&#8230;lo dah sampai yah?”</p>
<p>”udah&#8230;lo dimananya?”</p>
<p>”Ketemuan deket twenty one aja! Gue disitu!”</p>
<p>Tutup telfon. Nyisir-nyisir dikit kayak pemain film jaman dulu. Nyengir kuda di depan spion mobil sambil pamer gigi berusaha setting senyum kalau nanti ketemu Icha. Sepertinya sih udah okeh. Saya pun beranjak meninggalkan mobil.</p>
<p>Begitu sampai di depan 21&#8230;I saw her&#8230;</p>
<p>Black dress, with a short skirt&#8230;saya selalu mengasosiasikan warna hitam dengan sexy.<br />
And now she is wearing those color, hmmmm. Saya coba untuk bersikap lebih santai. Gak lucu kalau dia lihat saya yang lagi kayak ayam kena ayan karena terpesona gak jelas gini.</p>
<p>“Hai…dah lama?” katanya menyapa saya lebih dulu.</p>
<p>“Oh nggak koq…baru…baru…” kata saya mencoba menarik nafas dalam.</p>
<p>“Eh makan dulu yuk…gue laper belum sempet sarapan!”</p>
<p>“Okay…tapi gue kenyang sih gue temenin aja deh…”</p>
<p>Makan apa? Ayam goreng Fatmawati. Loh katanya di Karawaci? Ya sudahlah ini tak perlu di bahas. Ngerti bisnis franchise toh.</p>
<p>“Lo gak makan nih?” kata Icha setelah pesanannya datang.</p>
<p>“nggak gue dah sarapan soalnya&#8230;”</p>
<p>Anyway, I like watching her eating her food. Karena katanya sifat seseorang itu bisa dilihat dari cara makannya. Gimana dengan Icha? Okay, Kalau ada yang membayangkan gaya makan putri kerajaan dengan table manner yang tertata, jangan lantas memandingkan dengan Icha.</p>
<p>Cewek satu itu bisa makan dengan santai dan terlihat sangat menikmati ayamnya. She even sometimes leave the spoon and use her hand to grab the chiken. Asik deh pokoknya. Saya sih berharap jadi tuh ayam yang bisa menari-nari dibibirnya Icha. Tapi yah setelah inget tuh ayam melalui proses pengorengan super panas dulu, saya pun mengurungkan niat menjadi ayam goreng. <img src='http://namanyaicha.com/icha/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<p>“Lo buru-buru gak?” tanya Icha kemudian setelah ia menyelesaikan makannya.</p>
<p>“Nggak juga, kenapa?” tanya saya kemudian.</p>
<p>“Gue mau keliling dulu ada barang yang mau dibeli” katanya lagi.</p>
<p>“Oh ya udah…nggak masalah koq…gue temenin” Padahal dalam hati saya kegirangan. <img src='http://namanyaicha.com/icha/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Dan cerita kencan ini pun belum berakhir.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://namanyaicha.com/baju-hitam-dan-ayam-goreng-sexy/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Another date with Icha?</title>
		<link>http://namanyaicha.com/kencan-sama-icha/</link>
		<comments>http://namanyaicha.com/kencan-sama-icha/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 25 Aug 2005 16:45:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admire</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita lalu]]></category>
		<category><![CDATA[kencan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://namanyaicha.com/?p=151</guid>
		<description><![CDATA[<p></p><p>Sebenarnya saya agak ragu-ragu untuk ketemu dengan <a href="http://namanyaicha.com/siapa-icha/"title="icha" >Icha</a> lagi. Takutnya kalau ketemu lagi <a title="mencium" href="http://namanyaicha.com/saya-ingin-sekali-menciumnya/">saya bisa benar-benar nekat menciumnya</a> tanpa alasan. Lagi pula <a title="rencana pernikahan" href="http://namanyaicha.com/rencana-pernikahan-saya-itu/">rencana pernikaha</a>n saya sudah mulai dekat, jadi rasa bimbang itu makin menguat.</p>
<p>Tapi toh saya tidak bisa benar-benar memutuskan hubungan dengannya begitu saja. Paling tidak untuk sekedr SMS atau telfon sih saya masih menghubunginya. Seperti juga hari kemarin.</p>
<p>“Besok musti ke Karawaci nih!” kata Icha di seberang sana.</p>
<p>”Ke Karawaci ngapain Ca?” tanya saya kemudian</p>
<p>”Ada panggilan kerja, masalahnya bokap Cuma bisa nganterin aja, sementara pulangnya sepertinya musti sendiri, soalnya bokap harus pergi lagi” katanya lagi.</p>
<p>Ding&#8230;dong&#8230;.klimat terakhir Icha seperti merupakan ajakan untuk saya, refleks&#8230;</p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><p>Sebenarnya saya agak ragu-ragu untuk ketemu dengan <a href="http://namanyaicha.com/siapa-icha/"title="icha" >Icha</a> lagi. Takutnya kalau ketemu lagi <a title="mencium" href="http://namanyaicha.com/saya-ingin-sekali-menciumnya/">saya bisa benar-benar nekat menciumnya</a> tanpa alasan. Lagi pula <a title="rencana pernikahan" href="http://namanyaicha.com/rencana-pernikahan-saya-itu/">rencana pernikaha</a>n saya sudah mulai dekat, jadi rasa bimbang itu makin menguat.</p>
<p>Tapi toh saya tidak bisa benar-benar memutuskan hubungan dengannya begitu saja. Paling tidak untuk sekedr SMS atau telfon sih saya masih menghubunginya. Seperti juga hari kemarin.</p>
<p>“Besok musti ke Karawaci nih!” kata Icha di seberang sana.</p>
<p>”Ke Karawaci ngapain Ca?” tanya saya kemudian</p>
<p>”Ada panggilan kerja, masalahnya bokap Cuma bisa nganterin aja, sementara pulangnya sepertinya musti sendiri, soalnya bokap harus pergi lagi” katanya lagi.</p>
<p>Ding&#8230;dong&#8230;.klimat terakhir Icha seperti merupakan ajakan untuk saya, refleks saya pun menawarkan diri.</p>
<p>”Eh bareng gue ajah Cha&#8230;kebetulan juga mau  kesana sih, khan di karawaci banyak juga yang jualan handphone” kata saya beralasan.</p>
<p>”hmmm&#8230;kalau emang lo mau kesana sih boleh juga tuh!”</p>
<p>Mantab, I got Another date with her.</p>
<p>Sekarang tinggal gimana ijinnya sama bos di kantor?</p>
<p>“Bos, di Karawaci tuh katanya market Handphone lumayan growing loh!” kata saya di tengah metting.</p>
<p>“Belum tahu juga sih, team kita belum ada yang expand ke sana, kenapa memangnya?” kata bos saya menyelidik.</p>
<p>“Gini bos….masalahnya saya mau jemput cewek yang udah bikin saya gak bisa tidur gak bisa makan kayak lagu dangdut jaman dulu jadi gimana kalau besok saya izin ke karawaci”</p>
<p>Huehehe…nggak deng saya gak bilang gitu.</p>
<p>“Gini bos, dari info yang saya dapet sih marketnya lumayan, kalau memang diizinin besok saya mau visit kesana, saya gak keberatan koq tempatnya jauh yang penting market kita grow!” kata saya bernada heroik.</p>
<p>“Wah…kalau memang kamu gak keberatan dengan jaraknya yang jauh yah gak apa-apa. Bagus malah, oke bseok kamu ke sana saja!”</p>
<p>Yiiipee…it’s a date!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://namanyaicha.com/kencan-sama-icha/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Saya ingin sekali menciumnya</title>
		<link>http://namanyaicha.com/saya-ingin-sekali-menciumnya/</link>
		<comments>http://namanyaicha.com/saya-ingin-sekali-menciumnya/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 15 Aug 2005 17:54:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admire</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita lalu]]></category>
		<category><![CDATA[cium]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://namanyaicha.com/?p=143</guid>
		<description><![CDATA[<p></p><p>Sepertinya sedikit rasa grogi saya mulai hilang. Soalnya <a href="http://namanyaicha.com/siapa-icha/"title="icha" >Icha</a> sudah mulai <a href="http://namanyaicha.com/buka-bukaan-soal-icha/">terbuka soal urusan pribadi</a>nya. Paling tidak ini menunjukan sedikit rasa percaya sama saya toh. Ditambah lagi ia memuji bahwa saya orang yang paling bisa mengerti dirinya. Karena itu obrolan kami selanjutnya terasa ringan dan santai.</p>
<p>“jadi sekarang itu tugas lo di kantor baru apa sih?” tanya Icha sambil menghadapkan tubuhnya ke saya yang sedang menyetir.</p>
<p>“Yah ke toko-toko gitu lah, jelasin program dan kasih training kalo ada produk baru. Lumayan deh gue bisa pakai hape paling baru walaupun Cuma barang pinjeman buat training, kayak gini nih” kata saya sambil menunjukan hape yang&#8230;</p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><p>Sepertinya sedikit rasa grogi saya mulai hilang. Soalnya <a href="http://namanyaicha.com/siapa-icha/"title="icha" >Icha</a> sudah mulai <a href="http://namanyaicha.com/buka-bukaan-soal-icha/">terbuka soal urusan pribadi</a>nya. Paling tidak ini menunjukan sedikit rasa percaya sama saya toh. Ditambah lagi ia memuji bahwa saya orang yang paling bisa mengerti dirinya. Karena itu obrolan kami selanjutnya terasa ringan dan santai.</p>
<p>“jadi sekarang itu tugas lo di kantor baru apa sih?” tanya Icha sambil menghadapkan tubuhnya ke saya yang sedang menyetir.</p>
<p>“Yah ke toko-toko gitu lah, jelasin program dan kasih training kalo ada produk baru. Lumayan deh gue bisa pakai hape paling baru walaupun Cuma barang pinjeman buat training, kayak gini nih” kata saya sambil menunjukan hape yang ada di dashboard.</p>
<p>“Iya lucu juga tipis gini, kameranya pixelnya dah gede lagi yah?” katanya sambil mengambil hape itu dan sibuk mengutak-kutiknya.</p>
<p>“Pixelnya udah gede, lumayan kalo buat di bawa-bawa, ada meomori eksternalnya pula, jadi bisa simpen foto banyak” lanjut saya layaknya sedang memberi training.</p>
<p>“Oh gitu ya…gak percaya ah..cobain foto donk…sini foto sama gue!” Kata Icha santai sambil mendekatkan dirinya ke saya.Saat itu keadaan sedang macet jadi mobil sedang berhenti dan tangan saya bebas dari memegang setir.</p>
<p>“Jangan ada guenya deh, malu…ntar hasilnya jelek…” kata saya mencoba menghindar.</p>
<p>“Udah deh gitu ajah malu…ayo donk…” Icha sedikit menarik lengan saya.</p>
<p><a href="http://namanyaicha.com/icha/wp-content/uploads/2005/08/kiss1.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-145" title="kiss1" src="http://namanyaicha.com/icha/wp-content/uploads/2005/08/kiss1.jpg" alt="kiss1" width="300" height="200" /></a></p>
<p>Gerakannya kali ini membuat kami saling berdekatan. Wajah bundarnya yang selama ini membayangi saya kini begitu dekat. Matanya yang kemarin membuat saya terdiam kini bersebelahan dengan mata saya. Saya bisa merasakan helaan nafasnya.Saya bisa merasakan harum tubuhnya. She smell so nice, very tempting!</p>
<p>Sebersit khayalan meloncat dipikiran. Saya ingin meciumnya, saya ingin merasakan bibirnya yang sudah begitu dekat dengan bibir saya. I want to touch her face and give her a nice kiss</p>
<p>.“Dah selesai..gitu ajah malu bener” katanya memecah khayalan saya, rupanya pengambilan foto itu sudah selesai dilaksanakan.</p>
<p>“Bagus khan?” katanya lagi sambil menyerahkan hape itu kembali ke tangan saya.</p>
<p>“Iya bagus!” kata saya sambil memperhatikan hasil foto itu. Dan sejurus kemudian saya teringat sesuatu dan menekan tombol delete.</p>
<p>“Dihapus yah fotonya? Kenapa takut ketahuan calon istri?” tanya Icha sambil tersenyum simpul.</p>
<p>“Yah, kurang lebih begitu…” jawab saya singkat.</p>
<p>Dan obrolan kami pun kembali kaku seperti sedia kala.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://namanyaicha.com/saya-ingin-sekali-menciumnya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Buka-bukaan soal Icha</title>
		<link>http://namanyaicha.com/buka-bukaan-soal-icha/</link>
		<comments>http://namanyaicha.com/buka-bukaan-soal-icha/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 15 Aug 2005 05:20:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admire</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita lalu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://namanyaicha.com/?p=141</guid>
		<description><![CDATA[<p></p><p>Setelah <a href="http://namanyaicha.com/janji-untuk-pergi-berdua/">janjian kemarin</a>, Hari itu saya berusaha untuk tampil lumayan oke. Sepertinya setengah botol minyak wangi saya habiskan supaya bisa tampil seger di depan Icha. Perasaan sama pacar sendiri saya gak pernah bertingkah laku seperti ini. Tapi yah cewek kecil satu itu memang punya daya tarik yang beda untuk saya.</p>
<p>Pagi-pagi saya sudah pergi dari rumah, berhubung daerah rumah Icha agak rawan macet. Saya gak mau dia menunggu terlalu lama. First impression matter man! Sayangnya entah kenapa hari itu jalanan ndak terlalu macet. Dari pada malu kepagian saya terpaksa nunggu di pinggir jalan agak jauh dari rumah Icha. Bareng sama adik-adik&#8230;</p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><p>Setelah <a href="http://namanyaicha.com/janji-untuk-pergi-berdua/">janjian kemarin</a>, Hari itu saya berusaha untuk tampil lumayan oke. Sepertinya setengah botol minyak wangi saya habiskan supaya bisa tampil seger di depan Icha. Perasaan sama pacar sendiri saya gak pernah bertingkah laku seperti ini. Tapi yah cewek kecil satu itu memang punya daya tarik yang beda untuk saya.</p>
<p>Pagi-pagi saya sudah pergi dari rumah, berhubung daerah rumah Icha agak rawan macet. Saya gak mau dia menunggu terlalu lama. First impression matter man! Sayangnya entah kenapa hari itu jalanan ndak terlalu macet. Dari pada malu kepagian saya terpaksa nunggu di pinggir jalan agak jauh dari rumah Icha. Bareng sama adik-adik SD yang berangkat ke sekolah. Biar kesannya saya gak ngarep banget gitu. Selang beberapa lama hape saya berbunyi.</p>
<p>Icha: “udah sampai mana?”</p>
<p>Saya: “udah deket koq Cha&#8230;bentar lagi neh” padahal mah saya udah nyampe dari tadi.</p>
<p>Icha: “kalo dah sampai miss call aja yah”</p>
<p>Saya: “okay”</p>
<p>Saya pun menyalakan mobil, dan menjalankan ke depan rumahnya, dan menghubunginya untuk sekedar miss call. Tak lama kemudian Icha keluar. </p>
<p>God damn, she is gorgeous, so cute. Never seen her like this before. Untungnya saya bisa jaga sikap untuk gak menganga di depan wajahnya.</p>
<p>Icha: “pagi&#8230;” katanya dengan senyum</p>
<p>Saya: “pagi&#8230;sorry lama”</p>
<p>Icha: “nggak koq gue juga baru kelar”</p>
<p>Saya pun menyalakan mobil, tanpa berani menatapnya lagi. Malu rasanya kalau dia sampai tahu saya sangat suka dengan penampilannya hari ini.</p>
<p>Icha: “cewek lo gak papa nih&#8230;lo nganterin gue ke kampus?” katanya tiba-tiba</p>
<p>Saya: “gue sih bilang mau anterin lo!”</p>
<p>Yup, you might call me crazy! Tapi saya memang cerita semuanya tentang apapun sama <a href="http://namanya<a href="http://namanyaicha.com/siapa-icha/"title="icha" >icha</a>.com/pacar-saya-pun-tahu-tentang-icha/&#8221;>pacar saya</a>. Termasuk hari ini saya mau mengantar Icha. Pacar saya hanya berpesan hati-hati, itu saja!</p>
<p>Icha: “terus dia gak keberatan?”</p>
<p>Saya: “hmm&#8230;sepertinya sih nggak yah&#8230;Kebetulan searah dan Cuma nganterin ke kampus toh” kata saya membela diri.</p>
<p>Icha: “gue juga punya banyak temen cowok sih yang udah punya pacar tapi masih sering ngaterin, kebetulan cewek-ceweknya mereka juga dikenalin sama gue” </p>
<p>Saya: “lo sendiri cowok lo gak marah?”</p>
<p>Icha: “ah dia sih tergantung gimana guenya koq”</p>
<p>Saya: “pacar yang pengertian” kata saya lagi.</p>
<p>Icha: “sebenernya sih biasa ajah, dia masih kayak anak kecil lebih tepatnya. Belum terlalu dewasa jadi semua masih tergantung gue juga”</p>
<p>Saya: “yah soalnya elo secara personality memang terlalu kuat seh”</p>
<p>Icha: “huh&#8230;terlalu kuat gimana maksudnya?”</p>
<p>Saya: “ya elo khan Cuma penampilan ajah yang kayak ABG, tapi sebenarnya pemikiran elo jauh melebihi kapasitas penampilannya yang masih imut-imut begitu” </p>
<p>Dan obrolan kami pun berlanjut. Saya menjelaskan panjang lebar tentang bagaimana Icha secara personal. Bagaimana dia punya kepribadian yang kuat sehingga orang-orang lain cenderung ‘tunduk’ kepadanya. Saya pun berpendapat ia pasti sering ditunjuk sebagai ‘leader’ dalam situasi apapun. Tapi sayangnya orang hanya bisa mencapai kulit luarnya Icha. Dan seringkali hanya berhubungan dengannya sebatas kawan main. Mereka tidak tahu bahwa pemikiran-pemikiran besar ada di dalam tubuhnya yang kecil itu. Bagaimana ia sering berpikir cerdas dan berpikir besar jauh melebihi posisinya sekarang. Bagaimana pandangannya akan suatu hal kadang melebihi tindakannya yang ditunjukannya. Dan obrolan itu terjadi lebih dari setengah jam, tanpa terasa.</p>
<p>Icha: “gilaa..gue kagum&#8230;perasaan kita jarang ngobrol, tapi elo koq bisa tahu gue kayak gitu?”</p>
<p>Saya: “gue memang sedikit sensitif untuk merasakan personality seseorang”</p>
<p>Icha: “cowok gue ajah gak pernah bisa memahami gue seperti itu, tapi gue juga gak pernah memaksanya untuk bisa memahami seperti elo gitu. Makanya paling kalau jalan kita cuma cerita-cerita keseharian dan lebih banyak dia yang cerita. Gue sendiri lebih banyak diam karena sepertinya dia memang belum paham tentang gue, tapi lo hebat juga bisa tahu gue gitu”</p>
<p>Saya hebat. DUIIINNGGGG&#8230;serasa saya terlempar dari kursi pengemudi dan terbang ke udara dipuji Icha seperti itu. </p>
<p>Saya: “yah gue setengah paranormal kali” kata saya mencoba cuek dan menenagkan diri.</p>
<p>Icha: “iyah jujur elo orang yang paling paham tentang gue, padahal kayaknya elo orang yang paling jarang ngobrol sama gue”</p>
<p>If you only knew Cha&#8230;how much I adore you!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://namanyaicha.com/buka-bukaan-soal-icha/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Janji untuk pergi berdua!</title>
		<link>http://namanyaicha.com/janji-untuk-pergi-berdua/</link>
		<comments>http://namanyaicha.com/janji-untuk-pergi-berdua/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 14 Aug 2005 04:46:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admire</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita lalu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://namanyaicha.com/janji-untuk-pergi-berdua/</guid>
		<description><![CDATA[<p></p><p>Tidak terasa sudah nyaris sebulan saya tidak berhubungan lagi dengan <a href="http://namanyaicha.com/siapa-icha/"title="icha" >Icha</a>. Selepas dari tempat kerja yang lama saya tidak lagi pernah berhubungan lewat telfon atau hanya sekedar SMS. Apalagi Icha yang dulu juga tidak pernah dalam sejarahnya pernah menghubungi saya lebih dulu.</p>
<p>Tapi hari ini entah kenapa saya terus kepikiran tentang cewek yang satu itu. Ada dorongan kuat dari dalam diri untuk menghubunginya lagi. Saya coba menimang-nimang nomer hapenya yang tertera di phone book hape saya yang keren itu (<a href="http://namanyaicha.com/saya-pun-akhirnya-resign/">masih inget dounk di tempat kerja</a> yang baru ini saya dikasih hape paling canggih di kelasnya). Dan akhirnya tombiol call warna hijau itu&#8230;</p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><p>Tidak terasa sudah nyaris sebulan saya tidak berhubungan lagi dengan <a href="http://namanyaicha.com/siapa-icha/"title="icha" >Icha</a>. Selepas dari tempat kerja yang lama saya tidak lagi pernah berhubungan lewat telfon atau hanya sekedar SMS. Apalagi Icha yang dulu juga tidak pernah dalam sejarahnya pernah menghubungi saya lebih dulu.</p>
<p>Tapi hari ini entah kenapa saya terus kepikiran tentang cewek yang satu itu. Ada dorongan kuat dari dalam diri untuk menghubunginya lagi. Saya coba menimang-nimang nomer hapenya yang tertera di phone book hape saya yang keren itu (<a href="http://namanyaicha.com/saya-pun-akhirnya-resign/">masih inget dounk di tempat kerja</a> yang baru ini saya dikasih hape paling canggih di kelasnya). Dan akhirnya tombiol call warna hijau itu pun kepencet juga!</p>
<p>Icha: “Halo&#8230;” suara halo yang sangat khas itu akhirny bisa saya dengar lagi.</p>
<p>Saya: “Halo Cha, pa kabar dah lama nih gak ada kabarnya?”</p>
<p>Icha: “Baik..baik&#8230;kirain udah lupa sama gue&#8230;” katanya lagi sambil tertawa kecil.</p>
<p>Saya: “Ya gak lah&#8230;kirain malah elo yang lupa&#8230;”</p>
<p>Icha: “nggak koq&#8230;nih nomer lo masih disimpen”</p>
<p>Saya: “Ini lagi ngapain Cha?”</p>
<p>Icha: “nggak sih Cuma lagi pusing aja&#8230;”</p>
<p>Saya: “pusing kenapa?”</p>
<p>Icha: “ Besok pengen ke kampus, anak-anak BEM lagi pada ngumpul, Cuma mobuil paginya dipake bokap, males juga naik taksi”</p>
<p>Hmmm&#8230;is this an invitation? Pikir saya dalam hati. Coz it sounds like one.</p>
<p>Saya: “Bareng aja Cha, gue anterin..sekalian gue mau ke roxy lihat market”</p>
<p>Icha: “wah beneran nih, lo gak papa muter dulu ke rumah gue?”</p>
<p>Saya: “Udah gak papa, tapi itu juga kalo lo mau?”</p>
<p>Icha: “Mau aja sih&#8230;ya udah besok gue berangkat pagi sekitar jam setengah delapan, gak papa?”</p>
<p>Saya: “gak papa&#8230;gue dateng jam segitu”</p>
<p>Icha: “okay”<br />
Saya:” ya udah sampai besok ya Cha”</p>
<p>Hmmm&#8230;pertama kali nih saya jalan berdua sama Icha. Sumpah saya deg-degan abis. <img src='http://namanyaicha.com/icha/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://namanyaicha.com/janji-untuk-pergi-berdua/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Saya pun akhirnya resign</title>
		<link>http://namanyaicha.com/saya-pun-akhirnya-resign/</link>
		<comments>http://namanyaicha.com/saya-pun-akhirnya-resign/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 13 Jul 2005 05:26:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admire</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita lalu]]></category>
		<category><![CDATA[resign]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://namanyaicha.com/?p=136</guid>
		<description><![CDATA[<p></p><p>Diluar dugaan ternyata <a title="outing bersama kantor" href="http://namanyaicha.com/ke-puncak-asmara/">aktivitas outing bersama kantor</a> kemarin merupakan aktivitas terakhir saya di bank terbesar milik pemerintah itu. Soalnya tidak lama kemudian terjadi restrukturisasi besar-besar yang menyebabkan tim saya dilebur. Posisi tawar saya memang kurang kuat (maklum masih pegawai outsourcing), sehingga saya harus rela di gabung dengan tim yang saya kurang sukai.</p>
<p>Tapi toh itu hanya beberapa lama. Karena akhirnya saya bener-bener gak betah. Suasana di tim baru itu tidak kondusif, dan jadilah saya memutuskan untuk berhenti dari pekerjaan sebagai pegawai bank itu. Lantas kemana akhirnya saya pindah kerja?</p>
<p>Kebetulan ada kawan saya yang sudah duluan pindah dan memberikan informasi adanya lowongan. Saya&#8230;</p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><p>Diluar dugaan ternyata <a title="outing bersama kantor" href="http://namanyaicha.com/ke-puncak-asmara/">aktivitas outing bersama kantor</a> kemarin merupakan aktivitas terakhir saya di bank terbesar milik pemerintah itu. Soalnya tidak lama kemudian terjadi restrukturisasi besar-besar yang menyebabkan tim saya dilebur. Posisi tawar saya memang kurang kuat (maklum masih pegawai outsourcing), sehingga saya harus rela di gabung dengan tim yang saya kurang sukai.</p>
<p>Tapi toh itu hanya beberapa lama. Karena akhirnya saya bener-bener gak betah. Suasana di tim baru itu tidak kondusif, dan jadilah saya memutuskan untuk berhenti dari pekerjaan sebagai pegawai bank itu. Lantas kemana akhirnya saya pindah kerja?</p>
<p>Kebetulan ada kawan saya yang sudah duluan pindah dan memberikan informasi adanya lowongan. Saya coba dan diterima. Tempatnya adalah perusahaan pemegang lisensi handphone terbesar di Indonesia. Tapi yah status sih masih tetep pegawai outsourcing!</p>
<p>Anyway fasilitas di tempat kerja ini lebih menyenangkan. Setidaknya saya dilengkapi dengan handphone-handphone tipe terbaru. Bahkan yang belum keluar di pasaran sekalipun. Jadi lumayan bisa bergaya sama kawan dan keluarga layaknya orang kaya yang punya banyak handphone. Padahal mah tugas saya memberi training ke pemilik toko untuk setiap produk baru yang saya pegang.</p>
<p>Apa setelah pindah dan meninggal segala hal tentang Icha berarti saya lupa juga? Apa sekarang saya bisa konsentrasi ke <a title="rencana pernikahan" href="http://namanyaicha.com/rencana-pernikahan-saya-itu/">rencana pernikahan</a> saya? Ternyata nggak! Kesenangan punya handphone baru itu justru ingin saya bagi sama Icha. Semua rasa senang dan bahagia ini rasanya pengen saya ceritakan sama dia.</p>
<p><a href="http://namanya<a href="http://namanyaicha.com/siapa-icha/"title="icha" >icha</a>.com/akhirnya-harus-berpisah/&#8221;>Dia resign</a> saya gak bisa lupa! Saya resign juga gak lupa! Jadi harus gimana dounk?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://namanyaicha.com/saya-pun-akhirnya-resign/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ke puncak Asmara! (Part 2)</title>
		<link>http://namanyaicha.com/ke-puncak-asmara-part-2/</link>
		<comments>http://namanyaicha.com/ke-puncak-asmara-part-2/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 05 May 2005 23:05:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admire</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita lalu]]></category>
		<category><![CDATA[villa puncak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://namanyaicha.com/?p=128</guid>
		<description><![CDATA[<p></p><p>Setelah setuju untuk <a title="menginap di villa puncak" href="http://namanyaicha.com/ke-puncak-asmara/">menginap di villa</a> milik Icha, saya dan teman-teman pun akhirnya berangkat dengan mobil kami sendiri. Kami tiba di tempat itu hampir tengah malam. Icha sendiri sudah tiba lebih dulu.</p>
<p>Sebuah villa yang lumayan apik. Berukuran sedang dan lumayan tampak nyaman untuk ditinggali. Setidaknya jauh lebih baik dari tempat kami menginap sebelumnya. Berhubung sudah tengah malam dan kami sudah agak lelah, Icha pun mempersilahkan kami untuk berisirahat. Semua berkumpul di ruang tengah.</p>
<p>Benar saja, tak lama kemudian semua kawan saya sudah tidur nyaman sentosa. Tapi saya belum bisa memejamkan mata. Memang dari SMA punya kecenderungan insomnia jadi agak susah tidur. Dan&#8230;</p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><p>Setelah setuju untuk <a title="menginap di villa puncak" href="http://namanyaicha.com/ke-puncak-asmara/">menginap di villa</a> milik Icha, saya dan teman-teman pun akhirnya berangkat dengan mobil kami sendiri. Kami tiba di tempat itu hampir tengah malam. Icha sendiri sudah tiba lebih dulu.</p>
<p>Sebuah villa yang lumayan apik. Berukuran sedang dan lumayan tampak nyaman untuk ditinggali. Setidaknya jauh lebih baik dari tempat kami menginap sebelumnya. Berhubung sudah tengah malam dan kami sudah agak lelah, Icha pun mempersilahkan kami untuk berisirahat. Semua berkumpul di ruang tengah.</p>
<p>Benar saja, tak lama kemudian semua kawan saya sudah tidur nyaman sentosa. Tapi saya belum bisa memejamkan mata. Memang dari SMA punya kecenderungan insomnia jadi agak susah tidur. Dan malam itu perut saya kebetulan ndak mau kompromi</p>
<p>Lagi pula saya agak deg-degan neh, saya tidur bareng Icha. Yah, not exactly ‘tidur’ dalam artian seperti di film-film barat itu. Tapi khan lumayan bikin  grogi mengingat orang yang paling saya suka tidur hanya berjarak beberapa meter dari tempat saya. Karena itu perlahan saya melirik ke arahnya dalam keadaan ruangan yang gelap itu.</p>
<p>Mata saya menangkap sosok cowoknya Icha memegang selimut. Dengan lembut cowok itu menyelimutinya, dan keadaaan memang super duper dingin sih. Very romantic moment. Dia melindungi Icha bahkan ketika ia sudah tidur.</p>
<p>Terus terang saya pribadi awalnya agak meragukan <a href="http://namanya<a href="http://namanyaicha.com/siapa-icha/"title="icha" >icha</a>.com/icha-punya-pacar/&#8221;>cowok satu itu</a>. Masalahnya sebelum Icha masuk kantor kami, cowok itu punya reputasi yang kurang baik. Banyak kabar yang bilang kalau ia punya banyak wanita (alias playboy). Dulu rasanya ingin kasih tahu tentang hal ini ke Icha. Tapi yah siapa sayah?</p>
<p>Anyway, pemandangan malam itu agak mengubah persepsi saya. Momen selimut itu sepertinya menunjukan sisi yang lain dari cowok itu. Lagi pula selama ini saya hanya mendengar kabar toh tanpa pernah tahu bukti sebenarnya.</p>
<p>“Sepertinya Icha sudah punya orang yang tepat, setidaknya kalau saya tidak bisa memilikinya saya tahu bahwa dia punya orang yang menyayanginya”  Pikir saya mendayu-dayu. Dan ketenangan itu membawa saya ke tidur yang lelap.</p>
<p>***</p>
<p>“Gue duduk situ donk geser dikit!”</p>
<p>Ujar Icha sambil duduk diantara saya dan cowoknya ketika akhirnya pagi sudah menjelang dan kami sedang duduk di muka villa. Terus terang saya agak kaget, asalnya ia bisa saja duduk disebelah cowoknya (dibanding duduk diantara kami berdua yang berarti ia ada di dekat saya).</p>
<p>“Nih minum hangat, biar perutnya enakan!” katanya lagi sambil menyodorkan minuman ke saya.</p>
<p>Perasaan saya makin tak menentu. Pertama ia memilih duduk di sebelah saya. Kedua Ia membawakan saya minuman. Kawan yang lain juga disediakan tapi hanya di taruh di meja. Hanya saya yang di bawakannya. Apa karena saya mengeluh tidak enak perut semalam? Atau memang karena…?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://namanyaicha.com/ke-puncak-asmara-part-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ke puncak asmara!</title>
		<link>http://namanyaicha.com/ke-puncak-asmara/</link>
		<comments>http://namanyaicha.com/ke-puncak-asmara/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 05 May 2005 17:53:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admire</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita lalu]]></category>
		<category><![CDATA[villa puncak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://namanyaicha.com/?p=120</guid>
		<description><![CDATA[<p></p><p style="text-align: justify;">Seperti yang sudah <a href="http://namanyaicha.com/siapa-icha/"title="icha" >Icha</a> bilang, akhirnya <a href="http://namanyaicha.com/akhirnya-harus-berpisah/">dia resign</a> juga. Jadilah hari-hari saya layaknya pegawai biasa yang ke kantor absen, ketemu klien dan pulang. Gak ada lagi seru-seruan ketemu dan liatin Icha di dalamnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan sangat melankolisnya saya masih suka menegok kubikalnya yang biasa dipakai meeting pagi-pagi oleh teamnya dia. Belum lagi parkiran yang ditinggalkannya. Parahnya dia biasa parkir di depan pintu masuk kantor. Jadi khan saya kepikiran terus. Mungkin tukang parkir di situ juga curiga kali saya suka celingak-celinguk ke arah parkiran! Mana tampang saya mirip tukang congkel spion pula.</p>
<p style="text-align: justify;">Anyway, kantor saya kini sedang merencanakan akan mengadakan outing di puncak. Tapi bukan itu&#8230;</p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><p style="text-align: justify;">Seperti yang sudah <a href="http://namanyaicha.com/siapa-icha/"title="icha" >Icha</a> bilang, akhirnya <a href="http://namanyaicha.com/akhirnya-harus-berpisah/">dia resign</a> juga. Jadilah hari-hari saya layaknya pegawai biasa yang ke kantor absen, ketemu klien dan pulang. Gak ada lagi seru-seruan ketemu dan liatin Icha di dalamnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan sangat melankolisnya saya masih suka menegok kubikalnya yang biasa dipakai meeting pagi-pagi oleh teamnya dia. Belum lagi parkiran yang ditinggalkannya. Parahnya dia biasa parkir di depan pintu masuk kantor. Jadi khan saya kepikiran terus. Mungkin tukang parkir di situ juga curiga kali saya suka celingak-celinguk ke arah parkiran! Mana tampang saya mirip tukang congkel spion pula.</p>
<p style="text-align: justify;">Anyway, kantor saya kini sedang merencanakan akan mengadakan outing di puncak. Tapi bukan itu yang membuat saya exiting. Melainkan karena dari kabar yang saya dengar dari anak-anak kantor, Icha mau nengok saya (eh nggak deng, mau nengok kawan-kawannya di puncak pas outing nanti!) Katanya kebetulan dia sedang mau ke villa milik keluarganya, jadi sekalian mampir. Wuiih senangnya bukan main deh. Paling tidak kerinduan saya bisa terlampiaskan dari sekedar liat parkiran mobil.</p>
<p style="text-align: justify;">Kejadian deh hari itu di puncak saya nggak kosen sama acara outingnya. Team building lah, team work lah, yang pake acara gendong-gendongan, loncat-loncatan semua berlalu begitu saja. Waktu tidur pun terlewati tanpa kesan. Apalagi tidurnya kebagian di tempat yang jauh dari nyaman. Sumpah deh, ini outing salah satu bank terbesar di Indonesia tapi fasilitasnya payah abis.</p>
<p style="text-align: justify;">Tanpa sadar seluruh acara pun sudah diselesaikan selama dua hari. Dan malam terakhir adalah acara bebas. Saya memilih main gitar dengan kawan-kawan sambil menikmati udara malam yang segar.</p>
<p style="text-align: justify;">“Eh Icha! Dari mana? Bisa sampai disini juga!”</p>
<p style="text-align: justify;">Saya langsung menengok kearah yang ditunjuk anak-anak. Emang deh nih manusia kecil satu ini termasuk kalangan seleb. Banyak bener yang langsung menyadari kehadirannya ketika dating. Saya sendiri mencoba behave alias jaga sikap. Malu juga kalau ketahuan anak-anak yang lain kalau saya ngarep Icha datang! Apalagi saya lihat ia sudah bersama <a title="pacar icha" href="http://namanyaicha.com/icha-punya-pacar/">cowoknya</a> itu!</p>
<p style="text-align: justify;">“Hi cha!” kata saya singkat.</p>
<p style="text-align: justify;">“Hi…” katanya tak kalah singkat sambil duduk bersebrangan dengan saya</p>
<p style="text-align: justify;">Mata saya pun terpaku pada gitar tanpa berani menatapnya lagi. Padahal kalau gak ada orang lain dan urat malu saya putus saya udah:</p>
<p style="text-align: justify;">Berteriak “Icha saya kangen kamu!!” Sambil joget-joget ditengah lapangan bareng sahrukhan.</p>
<p style="text-align: justify;">Tapi kebahagian ala film India itu tidak berlangsung lama. Karena selang beberapa saat Icha sudah menghilang bersama cowoknya yang mengajaknya beranjak dari tempat itu. Saya pun akhirnya memilih menyendiri di dalam mobil, untuk sekedar merebahkan diri. Maklum tempat tidurnya di kamar sudah dikapling orang lain.</p>
<p style="text-align: justify;">“Woooyy…bangun woooyy” Kawan saya setengah berteriak sambil mengguncangkan tubuh saya yang ketiduran di jok belakang mobil.</p>
<p style="text-align: justify;">“Icha ngajakin ke Villanya tuh, katanya mending nginep disana dari pada disini gak jelas tidurnya! Gimana mau gak?” tanya kawan saya yang lain.</p>
<p style="text-align: justify;">“Sama siapa ajah” kata saya sambil mengusap mata yang masih pedes.</p>
<p style="text-align: justify;">“Biasalah cowoknya, <a href="http://namanyaicha.com/ketika-kenalan-itu/">dua cewek-cewek itu</a>, sama kita <a href="http://namanyaicha.com/saya-gak-bisa-main-billiard/">cowok-cowok bertiga</a>! Villanya gak jauh koq”</p>
<p style="text-align: justify;">Hmm…semalaman sama Icha? Sounds good to me! Gak papalah dia sama cowoknya, yang penting saya bisa sama-sama dia lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ya udah kita berangkat deh!”</p>
<p style="text-align: justify;">Dan kami pun pergi meninggalkan villa acara itu untuk beranjak menyusul Icha.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://namanyaicha.com/ke-puncak-asmara/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Akhirnya harus berpisah</title>
		<link>http://namanyaicha.com/akhirnya-harus-berpisah/</link>
		<comments>http://namanyaicha.com/akhirnya-harus-berpisah/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 09 Apr 2005 06:20:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admire</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita lalu]]></category>
		<category><![CDATA[rencana pernikahan]]></category>
		<category><![CDATA[teman tapi mesra]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://namanyaicha.com/?p=107</guid>
		<description><![CDATA[<p></p><p style="text-align: justify;">Terus terang meskipun <a title="rencana pernikahan" href="http://namanyaicha.com/rencana-pernikahan-saya-itu/">rencana pernikahan</a> saya makin matang, tapi hubungan saya dengan Icha juga semakin intens. Agak berbeda dari awal perkenalan dulu, sekarang saya lumayan sering ngobrol dengannya. Yah, walapun kekakuan dan ke katrokan saya masih tetap saja ada (kalau yang ini udah dari lahir). Satu dua kali saya ngobrol dengan Icha, dan satu dua kali juga saya SMS-an dengannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Oh yah, saya juga masih suka pakai trick lama salah nama SMS dan telefon tuh! Itu loh aksi pura-pura salah mencet nomer ketika kirim SMS atau telefon. Dan akhirnya berbuntut dengan obrolan atau SMS seperti:</p>
<blockquote>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Aduh&#8230;maaf yah Cha&#8230;tadi salah mencet mau kirim ke&#8230;</p></blockquote>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><p style="text-align: justify;">Terus terang meskipun <a title="rencana pernikahan" href="http://namanyaicha.com/rencana-pernikahan-saya-itu/">rencana pernikahan</a> saya makin matang, tapi hubungan saya dengan Icha juga semakin intens. Agak berbeda dari awal perkenalan dulu, sekarang saya lumayan sering ngobrol dengannya. Yah, walapun kekakuan dan ke katrokan saya masih tetap saja ada (kalau yang ini udah dari lahir). Satu dua kali saya ngobrol dengan Icha, dan satu dua kali juga saya SMS-an dengannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Oh yah, saya juga masih suka pakai trick lama salah nama SMS dan telefon tuh! Itu loh aksi pura-pura salah mencet nomer ketika kirim SMS atau telefon. Dan akhirnya berbuntut dengan obrolan atau SMS seperti:</p>
<blockquote>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Aduh&#8230;maaf yah Cha&#8230;tadi salah mencet mau kirim ke nyokap koq malah jadi ke elo yah?&#8221;</p>
</blockquote>

<p style="text-align: justify;">Coba bayangkan list phonebook di hape yang diatur dengan urutan alfabet. Padahal saya nyimpen nomer ibu saya dengan nama &#8220;Nyokap HP&#8221; sementara nomer teleon icha dengan sebutan &#8220;Icha hp&#8221;. Dari jaman anak SD main gundu juga udah tahu kalau huruf &#8220;N&#8221; dan &#8220;I&#8221; itu jauhnya minta ampun dalam susunan alfabet. Belum lagi ibu saya sudah ditaruh dalam group &#8220;family&#8221; sementara Icha di group &#8220;friend&#8221;. Jadi gak mungkin salah mencet nomer! Tapi gak ada yang tahu khan?</p>
<p style="text-align: justify;">Berhubung saya sudah merasa dekat (saya doang yang merasa dan Icha nggak), dan saya cenderung bercerita banyak dengan orang yang saya rasa dekat. Maka saya pun banyak berbagi dengan Icha. Termasuk juga kenyataan bahwa saya sudah punya pacar yang sudah lama berhubungan dan sudah berencana menikah. Bagaimana Icha menanggapi hal ini?</p>
<blockquote>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Apa kamu sudah menikah? kenapa selama ini kamu tidak bilang? Sementara aku sudah berharap banyak sama kamu&#8221; kata icha sambil tersedu dan diiringi musik yang menyayat hati ala sinetron Indonesia itu.</p>
</blockquote>
<p style="text-align: justify;">eh nggak deng! bukan begitu reaksi Icha sebenarnya! <img src='http://namanyaicha.com/icha/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Wah, hebat yah, gue belum pernah tuh ngerasain pacaran segitu lama!&#8221; jawab Icha singkat sambil tersenyum.</p>
<p style="text-align: justify;">Yup sayangnya cuma begitu aja koq reaksnya Icha.</p>
<p style="text-align: justify;">anyway, tepat ketika saya merasa &#8216;dekat&#8217; dengannya tiba-tiba disebuah obrolan siang Icha membuka omongan itu.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Gue rencananya mau resign&#8221; katanya santai.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Heh? Resign? kenapa?&#8221; entah kenapa saya merasa khawatir.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Gue mau balik ke kampus, biar skripsi gue cepet kelar dan kuliah kelar semua&#8221; katanya lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Kapan rencananya?&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Gue udah kasih surat resign koq?&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Yah Cha, ntar kalo gue kangen susah donk..&#8221; saya berusaha menyelipkan nada canda disana. Maksudnya supaya gak malu-maluin banget</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Yah lo khan tahu telefon gue, tahu rumah gue, lagian gue sekali-sekali masih kesini koq&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Wah masih kesini yah&#8230;bener&#8230;&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;iya&#8230;khan gue kadang masih jemput dia&#8230;&#8221; Icha menunjuk <a title="pacaran" href="http://namanyaicha.com/icha-punya-pacar/">cowoknya</a> yang sedang ngobrol di pojok ruangan yang lain.</p>
<p style="text-align: justify;">Hmmm&#8230;saya pikir dia datang lagi untuk saya, ternyata cowok itu! Mungkin mulai kini saya harus terbiasa datang ke kantor tanpa berharap ketemu Icha di kubikal sebelah!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://namanyaicha.com/akhirnya-harus-berpisah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
<enclosure url="http://namanyaicha.com/icha/wp-content/uploads/2005/04/RATU_Teman_Tapi_Mesra.mp3" length="4020720" type="audio/mpeg" />
		</item>
		<item>
		<title>Rencana pernikahan saya itu</title>
		<link>http://namanyaicha.com/rencana-pernikahan-saya-itu/</link>
		<comments>http://namanyaicha.com/rencana-pernikahan-saya-itu/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 05 Mar 2005 17:19:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admire</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita lalu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://namanyaicha.com/?p=98</guid>
		<description><![CDATA[<p></p><p style="text-align: justify;">&#8220;Setelah dihitung, keluargaku gak setuju dengan tanggal yang kita rencanakan!&#8221; Begitu pacar saya membuka omongannya ketika itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Yup, ada satu hal yang belum saya ceritakan. Waktu saya <a title="ketemu dewi persik" href="http://namanyaicha.com/inilah-awalnya/">ketemu Icha pertama kali</a> waktu itu, saya bukan saja sudah memiliki pacar, tapi saya bahkan sudah punya rencana untuk menikahinya. Dan tiba-tiba di suatu malam di bulan maret itu:</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Tapi kita sudah bayar gedung, katering dan lainnya? Alasannya apa?&#8221; kata saya panik</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Tanggal itu tidak baik untuk melangsungkan pernikahan&#8230;kalau tetap di tanggal itu mereka gak akan setuju&#8230;&#8221; kata pacar saya kemudian dengan nada lemas.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;What?? Dan membatalkan semuanya begitu saja??&#8221; nada saya mulai sedikit meninggi.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Katanya begitu&#8230;&#8221; lanjut pacar&#8230;</p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><p style="text-align: justify;">&#8220;Setelah dihitung, keluargaku gak setuju dengan tanggal yang kita rencanakan!&#8221; Begitu pacar saya membuka omongannya ketika itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Yup, ada satu hal yang belum saya ceritakan. Waktu saya <a title="ketemu dewi persik" href="http://namanyaicha.com/inilah-awalnya/">ketemu Icha pertama kali</a> waktu itu, saya bukan saja sudah memiliki pacar, tapi saya bahkan sudah punya rencana untuk menikahinya. Dan tiba-tiba di suatu malam di bulan maret itu:</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Tapi kita sudah bayar gedung, katering dan lainnya? Alasannya apa?&#8221; kata saya panik</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Tanggal itu tidak baik untuk melangsungkan pernikahan&#8230;kalau tetap di tanggal itu mereka gak akan setuju&#8230;&#8221; kata pacar saya kemudian dengan nada lemas.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;What?? Dan membatalkan semuanya begitu saja??&#8221; nada saya mulai sedikit meninggi.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Katanya begitu&#8230;&#8221; lanjut pacar saya lagi dengan kepala tertunduk.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Dan kamu setuju? Kita ini tidak boleh percaya hitung-hitungan seperti itu, keluargaku juga pasti tidak akan setuju kalau alasan pembatalannya seperti itu!&#8221; saya mulai terdengar ngotot.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Jadi kalau tidak mau diubah, apa kamu lebih memilih membatalkan semuanya?&#8221; pacar saya itu mulai terdengar pasrah.</p>
<p style="text-align: justify;">Tawaran itu tiba-tiba terdengar begitu menarik. Karena tepat di detik itu juga imajinasi saya melintaskan gambaran <a href="http://namanyaicha.com/siapa-icha/"title="icha" >Icha</a>. Selama ini tembok tinggi besar yang merintangi saya untuk mendekati Icha adalah status saya. Dan saya tidak mau meninggalkan pacar saya apalagi kami sudah punya rencana pernikahan. Tapi sekarang tawaran pembatalan itu datang. Bukan dari saya!</p>
<p style="text-align: justify;">Teringat kembali hal-hal menarik dan konyol yang saya alami dengan Icha mulai dari <a title="obrolan di mobil" href="http://namanyaicha.com/situ-lembang-jadi-sejarah/">obrolan di bagasi mobil</a> itu, <a title="SMS dan pembantu" href="http://namanyaicha.com/sms-icha-dan-pembantu-saya/">SMS dan pembantu</a> saya, <a title="main billiard" href="http://namanyaicha.com/saya-gak-bisa-main-billiard/">main billiard</a> yang gak jelas, urusan <a title="makan malam romantis" href="http://namanyaicha.com/is-it-a-date-part-3/">suap-suapan romantis</a> itu, sampai lihat <a title="lihat genteng rumah" href="http://namanyaicha.com/is-it-a-date-part-4/">genteng rumahnya</a> yang begitu menarik. Rasanya ingin menghabiskan hidup saya dengan hal-hal konyol itu. Cinta dan kekonyolan sepertinya sebuah resep yang menarik untuk menjalani hidup.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p><img class="size-full wp-image-102" title="Foto Cincin Kawin" src="http://namanyaicha.com/icha/wp-content/uploads/2005/03/cincin-kawin.jpg" alt="Foto Cincin Kawin" width="400" height="300" /></p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Jadi kamu mau dibatalin?&#8221; suara pacar saya membuyarkan semua lamunan saya.</p>
<p style="text-align: justify;">Perlahan saya melihat ke arahnya. Ada bulir air mata yang tertahan yang di sana. Dan air mata itu pula yang kembali mengingatkan saya kenapa saya ingin menikahinya. Wanita yang kini berada di samping saya. Ia yang mengubah saya yang gagu dan kikuk di depan orang lain bisa bercerita sampai pagi dengannya. Ia yang sudah ada disisi saya sekian lama. Ia yang bisa terima saya yang gantengnya kadang-kadang (banget dan lebih sering nggak ganteng). Ia yang mau menikahi saya yang tidak mapan ini. Ia yang mau terima saya apa adanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Dammmnn&#8230;jahatnya saya sudah membandingkan satu wanita dengan yang lainnya. Sementara mereka adalah subyek dan bukan sebuah obyek. Mereka dengan kepribadiannya masing-masing yang unik.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Kita pindahin tanggalnya!&#8221; kata saya kemudian dengan tegas.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Maksud kamu? gak dibatalin? gimana dengan keluarga kamu?&#8221; tanyanya khawatir.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Pilihannya adalah membuat pernikahan yang lebih sederhana karena uang kita kemungkinan hanya bisa balik setengahnya, kamu mau?&#8221; gantian saya yang bertanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Dan ia pun mengangguk setuju.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Kita rencanakan lagi dari awal, kapan keluarga kamu maunya, nanti keluargaku biar aku yang urus, mereka pasti setuju kalau aku yang cari alasannya&#8221; kata saya tersenyum.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Itu kenapa aku mau menikah sama kamu, kamu baik dan pengertian!&#8221; katanya kemudian.</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Aku baik? Aku yang sempat memikirkan wanita lain bernama Icha ketika kita sedang merencanakan pernikahan ini kamu katakan baik? </em></p>
<p style="text-align: justify;">Sayang semuanya cuma terlintas dipikiran saya. Dan hanya senyum yang menjadi komen saya untuk kalimat terakhir pacar saya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://namanyaicha.com/rencana-pernikahan-saya-itu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Is it a date (Part 4)</title>
		<link>http://namanyaicha.com/is-it-a-date-part-4/</link>
		<comments>http://namanyaicha.com/is-it-a-date-part-4/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 12 Feb 2005 23:31:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admire</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita lalu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://namanyaicha.com/?p=91</guid>
		<description><![CDATA[<p></p><p style="text-align: justify;">Time flies when we were having fun! alias Waktu terasa begitu cepat kalau kita menikmatinya, kira-kira begitu kata pepatah. Itu pula yang saya rasakan pada <a title="kencan sama Icha" href="http://namanyaicha.com/is-it-a-date-part-3/">&#8216;kencan&#8217; bersama Icha</a> hari itu. Saya yang begitu menikmatinya tidak sadar bahwa waktu sudah mulai beranjak malam. Dan saya baru tahu pula kalau <a title="cewek cantik" href="http://namanyaicha.com/siapa-icha/">cewek yang satu ini</a> agak pilih-pilih kapan waktunya boleh pulang malam dan kapan tidak. Sayangnya hari itu bukan pilihannya untuk pulang larut (atau dia tidak menikmati hari ini sebagaimana saya menikmatinya?).</p>
<p style="text-align: justify;">Anyway, saya yang masih ingin bersamanya agak tidak rela kalau hari ini berlalu begitu saja. Saya pun memikirkan berbagai jurus untuk bisa terus bersamanya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Jalan&#8230;</p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><p style="text-align: justify;">Time flies when we were having fun! alias Waktu terasa begitu cepat kalau kita menikmatinya, kira-kira begitu kata pepatah. Itu pula yang saya rasakan pada <a title="kencan sama Icha" href="http://namanyaicha.com/is-it-a-date-part-3/">&#8216;kencan&#8217; bersama Icha</a> hari itu. Saya yang begitu menikmatinya tidak sadar bahwa waktu sudah mulai beranjak malam. Dan saya baru tahu pula kalau <a title="cewek cantik" href="http://namanyaicha.com/siapa-icha/">cewek yang satu ini</a> agak pilih-pilih kapan waktunya boleh pulang malam dan kapan tidak. Sayangnya hari itu bukan pilihannya untuk pulang larut (atau dia tidak menikmati hari ini sebagaimana saya menikmatinya?).</p>
<p style="text-align: justify;">Anyway, saya yang masih ingin bersamanya agak tidak rela kalau hari ini berlalu begitu saja. Saya pun memikirkan berbagai jurus untuk bisa terus bersamanya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Jalan pulangnya tahu Cha?&#8221; Tanya saya sambil menghampirinya yang sudah standby di dalam mobil.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Kalau lewat tol sana sih sebenarnya tahu, tapi kalau lewat belakang kompleks sebenarnya masih harus diinget juga, tapi tahu koq!&#8221; jawab <a href="http://namanyaicha.com/siapa-icha/"title="icha" >Icha</a> santai.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Lewat belakang itu agak gelap sih dan sepi pula, kalau mau biar gue iringin ajah dari belakang siapa tahu lo nyasar&#8221; kata saya sambil dalam hati memanjatkan doa khusyuk pada Tuhan, Please God bikin dia mau dianterin saya&#8230;please&#8230;please&#8230;please&#8230;.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ehm&#8230;sebenernya sih yah gak papa&#8230;tapi kalau memang elo udah mau pulang juga ya udah barengan aja toh searah khan&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Ding&#8230;dong&#8230;mantab!!!!</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ya udah&#8230;bareng ajah bentar gue nyalain mobil&#8230;ntar lo di depan aja yah&#8230;&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Jadilah aksi pulang bareng itu kami lakoni. Cuma barengnya pake mobil iring-iringan. Tapi yang namanya kita lagi suka sama orang, cuma sekedar lihat papan plat nomer mobilnya dari belakang ajah kayaknya senengnya udah minta ampun. Tuh papan hitam putih keluaran Samsat koq keliatannya beda ajah kalo udah kayak gini!</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Halo&#8230;&#8221; Icha menelfon ke nomor saya begitu kami hampir sampai di sebuah perapatan besar dekat area rumah saya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Halo Cha&#8230;&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Udah&#8230;kalo udah disini gue udah tinggal lurus-lurus aja koq&#8230;lagian jalannya udah ramai&#8230;rumah lo belok kiri khan?&#8221; tanya Icha di seberang sana.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Gak apa-apa Cha&#8230;tanggung amat tinggal dikit lagi khan rumah lo, sekalian gue tahu rumah lo kalo gak keberatan?&#8221; lagi-lagi saya berdoa keras&#8230;Please God bikin dia mau dianterin saya&#8230;please&#8230;please&#8230;please&#8230;.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Gue sih gak keberatan&#8230;tapi elo yakin?&#8221; dari nadanya saya tahu Icha agak bingung.</p>
<p style="text-align: justify;">Pasalnya itu perapatan gede banget dan dket pasar pula. Jam baru menunjukan pukul tujuh malam dan setelah perapatan itu areanya terang benderang dan dihiasi kendaraan lalu lalang sana sini. Rasanya alasan saya  &#8220;menemai dijalan sepi dan gelap&#8221; sudah tak berlaku lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Iya udah tanggung&#8230;&#8221; Jawab saya tegas.</p>
<p style="text-align: justify;">Mobil kami pun kembali beriringan. Tak sampai lima belas menit kami pun tiba di sebuah rumah. Icha meminggirkan mobilnya, keluar dari sana dan menghampiri mobil saya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ini rumah gue, bentar ya gue parkirin dulu&#8221; katanya kemudian.</p>
<p style="text-align: justify;">Saya pun menunggu bengong di dalam mobil. Mengamati mulai dari pagar sampai ujung genteng rumahnya. (saya juga bingung ini saya suka sama Icha atau mau garong rumahnya??).</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Mau mampir?&#8221; tanya Icha kemudian setelah selesai memarkir mobilnya dan masuk ke mobil saya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Eh..ehmm..gak deh&#8230;gue langsung aja&#8230;&#8221; kata saya panik karena grogi. Waduh, dasar deh sifat katrok saya mincul lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;YAkin??&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Iya..gue balik deh&#8230;&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ya udah&#8230;thanks ya udah dianterin&#8230;&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Iya sama-sama&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Saya pun kembali menjalankan mobil. Dianterin beda mobil, begitu sampai rumah nggak turun juga, halaahh&#8230;payah bener deh saya!!</p>
<p style="text-align: justify;">Dan pertanyaannya tetap sama: &#8220;Is it a date?&#8221;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://namanyaicha.com/is-it-a-date-part-4/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Is it a date? (Part 3)</title>
		<link>http://namanyaicha.com/is-it-a-date-part-3/</link>
		<comments>http://namanyaicha.com/is-it-a-date-part-3/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 12 Feb 2005 21:46:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admire</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita lalu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://namanyaicha.com/?p=83</guid>
		<description><![CDATA[<p></p><p>We were having a great time! Paling tidak saya sih merasa demikian. Gak tahu juga deh <a href="http://namanyaicha.com/siapa-icha/"title="icha" >Icha</a>. Saya makin intens ngobrol dengan cewek satu ini. Dan satu hal, sepertinya sih selera humor saya dan dia sama. </p>
<p>Kurang lebih tiga jam kami <a href="http://namanyaicha.com/is-it-a-date-part2/">menghabiskan waktu</a> disana. Mulai dari ngobrol hal yang serius, bercanda, dengerin musik, sampai memasak. Memasak? Yup, meski tidak bisa dibilang sangat jago, tapi ternyata Icha bisa memasak juga. Jadi ceritanya kawan saya yang punya rumah itu sedang menyiapkan makanan untuk kami santap. Saya pun ikut membantunya sedikit. </p>
<p>&#8220;Hei, lagi ngapin sih?&#8221; tanya Icha yang tiba-tiba menyusul kami ke dapur.</p>
<p>&#8220;Eh Cha&#8230;ini&#8230;</p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><p>We were having a great time! Paling tidak saya sih merasa demikian. Gak tahu juga deh <a href="http://namanyaicha.com/siapa-icha/"title="icha" >Icha</a>. Saya makin intens ngobrol dengan cewek satu ini. Dan satu hal, sepertinya sih selera humor saya dan dia sama. </p>
<p>Kurang lebih tiga jam kami <a href="http://namanyaicha.com/is-it-a-date-part2/">menghabiskan waktu</a> disana. Mulai dari ngobrol hal yang serius, bercanda, dengerin musik, sampai memasak. Memasak? Yup, meski tidak bisa dibilang sangat jago, tapi ternyata Icha bisa memasak juga. Jadi ceritanya kawan saya yang punya rumah itu sedang menyiapkan makanan untuk kami santap. Saya pun ikut membantunya sedikit. </p>
<p>&#8220;Hei, lagi ngapin sih?&#8221; tanya Icha yang tiba-tiba menyusul kami ke dapur.</p>
<p>&#8220;Eh Cha&#8230;ini lagi goreng daging asap&#8230;enak loh dibawa dari daerahnya dia&#8230;&#8221; kata saya sambil menunjuk kawan saya.</p>
<p>&#8220;Gue ikutan donk&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Gak usah Cha&#8230;bisa koq&#8230;udah lo balik ke depan ajah gak papa&#8221; kata saya yang kemudian diiyakan oleh kawan saya.</p>
<p>&#8220;Gue dikit-dikit bisa masak loh&#8230;khan di rumah juga gue suka bantu nyokap walaupun kadang-kadang&#8230;dah sini gue yang goreng&#8221; kata Icha cepat sambil mengambil sodet dari tangan kawan saya.</p>
<p>Oh iyah, ruangan dapur rumah kawan saya itu tidak begitu luas. Jadi jarak kami berdua begitu dekat. Persis seperti film India, dia berada di depan saya dan saya memperhatikan dibelakangnya lekat-lekat. Belum lagi adanya dukungan asap-asap yang memenuhi udara. Sayangnya kalau di film asapnya dari dry ice, sementara disini dari minyak goreng yang kena panas. Rasanya kedekatan ini akan begitu romantis kalau tidak disertai bau daging asap yang menyengat itu. </p>
<p>&#8220;Udah sana&#8230;lo tunggu depan ajah&#8230;susah nih sempit&#8230;&#8221; kata Icha lagi.</p>
<p>Saya pun dengan gak rela meninggalkan dapur dan asap-asap romantis walaupun bau daging itu. Selang 10 menit Icha pun meyusul kami di teras depan.</p>
<p>&#8220;Selesai&#8230;.&#8221; Icha membawa daging asap yang sudah di taruhnya di piring.</p>
<p>&#8220;Nih cobain gorengan gue&#8221; katanya sambil tersenyum.</p>
<p>Icha menyodorkan dagingnya kepada saya. </p>
<p>&#8220;Masih panas gak?&#8221; saya mencoba mengambil garpu dari tangan Icha.</p>
<p>&#8220;Nggak udah nggak&#8230;dah nih cobain ajah&#8230;&#8221; Icha menepis pelan tangan saya dan hendak menyuapi saya.</p>
<p>&#8220;Enak khan?&#8221; tanyanya lagi sambil memperhatikan mimik muka saya.</p>
<p>&#8220;Enak Cha&#8230;bisa masak juga ternyata&#8230;&#8221;sambung saya cepat.</p>
<p>&#8220;Iya lah&#8230;&#8221; jawab Icha sambil tertawa penuh kemenangan.</p>
<p>Hmmmm&#8230;.saya memang sudah jatuh cinta dengan daging asap ini sejak dikenalkan oleh kawan saya. Tapi kalau disajikannya dengan cara disuapi begini koq yah kayaknya saya jadi bener-bener doyan.</p>
<p>Mengutip kata-kata ibu saya lagi &#8220;Hatinya cowok itu terletak diperutnya!&#8221;</p>
<p>Walaupun kutipan itu pasti tidak disetujui oleh guru biologi manapun, tapi saya sendiri sangat setuju dengan ibu saya.</p>
<p>Coz I think I love her more since that day! </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://namanyaicha.com/is-it-a-date-part-3/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Is it a date (part2)</title>
		<link>http://namanyaicha.com/is-it-a-date-part2/</link>
		<comments>http://namanyaicha.com/is-it-a-date-part2/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 12 Feb 2005 21:04:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admire</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita lalu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://namanyaicha.com/?p=78</guid>
		<description><![CDATA[<p></p><p style="text-align: justify;">“Gue udah di depan  clusternya nih, terus kemana?”</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://namanyaicha.com/siapa-icha/"title="icha" >Icha</a> bertanya lewat telefonnya. Yup, setelah setuju untuk bergabung dengan <a title="kencan buta" href="http://namanyaicha.com/is-it-a-date-part1/">kami melepas penat</a>, Icha beberapa kali menghubungi saya untuk menanyakan arah. Ada dua kawan baiknya disini tapi dia memilih untuk tanya ke saya? Hmmm…lumayan bikin geer sih. Tapi mungkin juga ini bukan apa-apa mengingat yang mengajaknya adalah saya, jadi rasanya wajar kalau ia bertanya ke saya. <span style="text-decoration: line-through;">Dan muka saya mungkin memang mirip penunjuk jalan ala DLLAJ.</span></p>
<p style="text-align: justify;">“Masuk aja Cha, lurus mentok belok kanan, mentok lagi belok kiri, nanti ada mobil gue keliatan koq!” kata saya cepat.</p>
<p style="text-align: justify;">Saya pun segera menunggu di depan rumah. Persis kayak anak&#8230;</p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><p style="text-align: justify;">“Gue udah di depan  clusternya nih, terus kemana?”</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://namanyaicha.com/siapa-icha/"title="icha" >Icha</a> bertanya lewat telefonnya. Yup, setelah setuju untuk bergabung dengan <a title="kencan buta" href="http://namanyaicha.com/is-it-a-date-part1/">kami melepas penat</a>, Icha beberapa kali menghubungi saya untuk menanyakan arah. Ada dua kawan baiknya disini tapi dia memilih untuk tanya ke saya? Hmmm…lumayan bikin geer sih. Tapi mungkin juga ini bukan apa-apa mengingat yang mengajaknya adalah saya, jadi rasanya wajar kalau ia bertanya ke saya. <span style="text-decoration: line-through;">Dan muka saya mungkin memang mirip penunjuk jalan ala DLLAJ.</span></p>
<p style="text-align: justify;">“Masuk aja Cha, lurus mentok belok kanan, mentok lagi belok kiri, nanti ada mobil gue keliatan koq!” kata saya cepat.</p>
<p style="text-align: justify;">Saya pun segera menunggu di depan rumah. Persis kayak anak umur tiga tahun yang baru dibelikan mainan dan gak sabar menunggu ayahnya pulang. Dari kejauhan saya bisa lihat mobilnya Icha. Pas di depan rumah Ia membuka kaca mobilnya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Parkir dimana nih?” tanyanya kemudian.</p>
<p style="text-align: justify;">Posisi mobil memang asedikit ack-acakan waktu itu.</p>
<p style="text-align: justify;">“Pararel aja Cha!” lanjut saya.</p>
<p style="text-align: justify;">Icha pun langsung turun dari mobilnya begitu saja.</p>
<p style="text-align: justify;">“Tolong parkirin donk!” pintanya dengan cuek kepada saya yang menunggu di depan.</p>
<p style="text-align: justify;">Saya pun mengiyakan, dan menyerahkan nomer kepadanya. <span style="text-decoration: line-through;">Eh bagian memberikan nomernya nggak deng, saya khan bukan valet parking</span>. Tapi betul saya yang akhirnya memarkirkan mobil itu. Pikiran pun langsung teringat pesan ibu saya.</p>
<p style="text-align: justify;"><em>”Kepribadian seseorang itu bisa dinilai dari mobilnya loh!” kata ibu saya suatu waktu</em>.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebelum ada yang salah sangka ibu saya bukan montir!</p>
<p style="text-align: justify;">Anyway, begitu masuk mobil Icha, hmmm&#8230;harum pewangi mobil. Saya pun melontarkan pandangan sekeliling. Lumayan rapi, semua tertata walaupun nggak juga terlalu cewek banget. Tapi mobilnya bersih dan lumayan terawat koq. Dan mengingat pesan ibu saya bahwa mobil sesuai kepribadian pemiliknya, <span style="text-decoration: line-through;">berarti Icha juga pakai pewangi mobil</span><span style="text-decoration: line-through;">,</span> mobil ini sesuai dengan Icha yang lumayan menjaga penampilan walaupun tidak juga layaknya cewek-cewek cheerleader yang kecentilan itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Akhirnya mobil pun terparkir rapi di tempatnya!</p>
<p style="text-align: justify;">Di dalam Icha sudah duduk dengan santainya di lantai di depan televisi yang sedang memutar DVD norah jones. Saya memilih duduk di sofa dengan posisi di dekatnya agak kebelakang sedikit. Dari posisi ini saya bisa memperhatikan rambut Icha helai demi helainya. Nice! Seperti biasa Icha asik ngobrol dengan dua kawannya dan dua kawan saya. Sementara saya cuma sesekali menanggapi.</p>
<p style="text-align: justify;">Tapi entah bagaimana ceritanya tiba-tiba hanya tersisa kami berdua di depan televisi. Aksi diam pun kembali terjadi. Masa sih udah di depan mata begini masih diem-dieman pikir saya dalam hati.</p>
<p style="text-align: justify;">“Tadi susah nyari nih rumah Cha?” tanya saya membuka omongan basa-basi.</p>
<p style="text-align: justify;">“Sebenarnya sih nggak juga, ada temen juga yang tinggal deket sini Cuma beda cluster, bingung nyari clusternya aja” Jawabnya tanpa mengalihkan pandangannya dari televisi yang menayangkan Norah Jones.</p>
<p style="text-align: justify;">“Eh, haus deh&#8230;mau minum donk!” Icha tiba-tiba berbalik dan menatap langsung ke saya.</p>
<p style="text-align: justify;">SERRR&#8230;darah saya turun ke jempol kaki diliatin kayak gitu.</p>
<p style="text-align: justify;">“Disini self service Cha, ambil sendiri&#8230;maklum dia (saya menujuk kawan saya) tinggal sendiri jadi aturan nih rumah gak jelas“ kata saya kemudian.</p>
<p style="text-align: justify;">“yah kalian khan udah biasa main, saya khan baru pertama jadi itungannya tamu kalian&#8230;mbok ya dijamu gitu&#8230;“ katanya sambil tertawa kecil.</p>
<p style="text-align: justify;">“Siap deh Cha&#8230;mau minum apa dingin hangat&#8230;.?“</p>
<p style="text-align: justify;">“Apa aja deh&#8230;terserah&#8230;“</p>
<p style="text-align: justify;">Saya bangkit dari duduk tanpa melepas pandangan saya ke Icha yang kembali asik nonton Norah Jones dan sudah tidak melihat saya lagi. Sambil berdiri saya menarik nafas panjang, dan&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;">“Bentar yah&#8230;“ kata saya sambil cepat menyentuh rambutnya Icha dengan lembut.</p>
<p style="text-align: justify;">Huh menyentuhnya? Emang berani? Yup, gak tahu deh keberanian dari mana itu. Tapi saya menyentuhnya, sebenarnya tidak begitu romantis, menaruh telapak tangan saya cepat di atas kepalanya. Mungkin lebih mirip seorang guru yang memegang ujung kepala anaknya ketika di salamin mau pulang sekolah. Icha sendiri sepertinya tidak menyadari atau tidak ambil pusing akan hal ini. Namun itu sangat berarti buat saya.</p>
<p style="text-align: justify;">I touch her for the first time!</p>
<p style="text-align: justify;">PS:<em> saya gak cuci tangan tiga hari karena itu! </em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://namanyaicha.com/is-it-a-date-part2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Is it a date? (Part1)</title>
		<link>http://namanyaicha.com/is-it-a-date-part1/</link>
		<comments>http://namanyaicha.com/is-it-a-date-part1/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 12 Feb 2005 20:18:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admire</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita lalu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://namanyaicha.com/?p=72</guid>
		<description><![CDATA[<p></p><p style="text-align: justify;">Lagi-lagi cerita ini melibatkan dua orang <a href="http://namanyaicha.com/saya-gak-bisa-main-billiard/">kawan baiknya Icha</a> yang sudah saya singgung sebelumnya. Well, Guess what, saya akhirnya berteman baik dengan keduanya. Sering kali saya dan dua orang teman saya yang lain beberapa kali jalan dengan mereka ini. Sekedar makan, berangkat kantor bersama atau bahkan main ke rumah salah satu kawan saya. Tapi sayangnya tidak pernah sama Icha (<span style="text-decoration: line-through;">*ngarep mode on</span>).</p>
<p style="text-align: justify;">Begitu juga sore itu. Sehabis pulang kantor kami berlima, saya, dua kawan laki-laki saya dan dua temannya <a href="http://namanyaicha.com/siapa-icha/"title="icha" >Icha</a> ini memutuskan untuk melepas penat di rumah kawan saya. Biasanya sih cuma sekedar nonton DVD, dengar musik atau makan hasil masakan kami sendiri.&#8230;</p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><p style="text-align: justify;">Lagi-lagi cerita ini melibatkan dua orang <a href="http://namanyaicha.com/saya-gak-bisa-main-billiard/">kawan baiknya Icha</a> yang sudah saya singgung sebelumnya. Well, Guess what, saya akhirnya berteman baik dengan keduanya. Sering kali saya dan dua orang teman saya yang lain beberapa kali jalan dengan mereka ini. Sekedar makan, berangkat kantor bersama atau bahkan main ke rumah salah satu kawan saya. Tapi sayangnya tidak pernah sama Icha (<span style="text-decoration: line-through;">*ngarep mode on</span>).</p>
<p style="text-align: justify;">Begitu juga sore itu. Sehabis pulang kantor kami berlima, saya, dua kawan laki-laki saya dan dua temannya <a href="http://namanyaicha.com/siapa-icha/"title="icha" >Icha</a> ini memutuskan untuk melepas penat di rumah kawan saya. Biasanya sih cuma sekedar nonton DVD, dengar musik atau makan hasil masakan kami sendiri. Kebetulan kawan saya itu hanya tinggal sendiri tanpa orang tuanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Salah satu temannya Icha: &#8220;Eh, Icha lagi deket sini deh perasaan, ajak ke sini ajah kali yah?&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">TUIIITTTTT&#8230;TUIIITTTTT&#8230;.TUIIIITTTT&#8230;.Alarm di kepala saya langsung menyala. Icha? Ke rumah ini? And spend a few time with us? That will be great!</p>
<p style="text-align: justify;">Saya: &#8221; ya udah, ajakin ajah&#8230;rame khan jadi seru tuh!&#8221; ujar saya beralasan.</p>
<p style="text-align: justify;">Salah satu temannya Icha: &#8220;Ya udah telefon gih!&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Seolah mendapat restu. Saya pun memberanikan diri untuk menelfon Icha untuk kali ini.</p>
<p style="text-align: justify;">suara Icha disebrang sana: &#8220;Halloo&#8230;&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Btw, suara sapaan Halo si Icha ini begitu khas. Saya suka bener nadanya, beda dari yang lain. Dimulai dengan kata Ha&#8230;yang agak halus kemudian agak tertahan dan kemudian disambung dengan Lo yang bernada lebih rendah sedikit. Gosh, enak deh didengernya! I wish sayah bisa rekam suara halo itu untuk disimpen.</p>
<p style="text-align: justify;">Saya: &#8220;Halo Cha, lagi dimana nih?&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Ia pun menyebutkan suatu tempat yang memang dekat dengan tempat kami sekarang.</p>
<p style="text-align: justify;">Saya: &#8220;Main ke sini Cha, ada dua ibu-ibu yang nungguin nih&#8230;&#8221; Dua kawannya berteriak memanggil namanya dari jauh.</p>
<p style="text-align: justify;">Terdengar suara tawa kecil Icha dari seberang sambungan telefon.</p>
<p style="text-align: justify;">suara Icha disebrang sana: &#8220;Emang lagi pada apa? Ada acara apaan?&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Saya: &#8220;Nggak sih, Iseng ajah nonton-nonton DVD, ayo kesini donk Cha!&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">suara Icha disebrang sana: &#8220;Hmmmm&#8230;ya udah deh, nanti gue kesana alamatnya SMS-in yah!&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Yiiiipiiieeee&#8230;.ternyata sedikit keberanian saya membuahkan hasil! Coba dari dulu saya mengajak Icha ini dan itu. Jangan-jangan ceritanya bisa lain, Jangan-jangan dia mau jalan sama saya&#8230;Ah&#8230;udah lah&#8230;yang penting sekarang dia mau kesini. Tinggal menunggu kedatangannya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://namanyaicha.com/is-it-a-date-part1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pacar saya pun tahu tentang Icha</title>
		<link>http://namanyaicha.com/pacar-saya-pun-tahu-tentang-icha/</link>
		<comments>http://namanyaicha.com/pacar-saya-pun-tahu-tentang-icha/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 02 Feb 2005 22:20:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admire</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita lalu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://namanyaicha.com/?p=64</guid>
		<description><![CDATA[<p></p><p style="text-align: justify;">I&#8217;m an open book if I&#8217;m in love<span style="text-decoration: line-through;">, artinya dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat. Eh, itu mah men sana in corpore sano</span>. Saya itu bisa ketebak banget kalo lagi jatuh cinta. Ibaratnya nenek rabun juga tahu kalo saya lagi demen sama orang lain.</p>
<p style="text-align: justify;">Makanya saya paling gak bisa menyembunyikan perasaan termasuk sama pacar saya sekalipun. Ada satu ciri yang jelas (ciri ini juga konon dimiliki orang lain yang lagi jatuh cinta), saya sering menyebut nama orang yang saya sukai itu dalam situasi apapun.</p>
<p style="text-align: justify;">sekedar catatan: teori ini tidak berlaku kalau saya sering menyebut nama saiful jamil, yang ini mah&#8230;</p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><p style="text-align: justify;">I&#8217;m an open book if I&#8217;m in love<span style="text-decoration: line-through;">, artinya dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat. Eh, itu mah men sana in corpore sano</span>. Saya itu bisa ketebak banget kalo lagi jatuh cinta. Ibaratnya nenek rabun juga tahu kalo saya lagi demen sama orang lain.</p>
<p style="text-align: justify;">Makanya saya paling gak bisa menyembunyikan perasaan termasuk sama pacar saya sekalipun. Ada satu ciri yang jelas (ciri ini juga konon dimiliki orang lain yang lagi jatuh cinta), saya sering menyebut nama orang yang saya sukai itu dalam situasi apapun.</p>
<p style="text-align: justify;">sekedar catatan: teori ini tidak berlaku kalau saya sering menyebut nama saiful jamil, yang ini mah gak lebih dari rasa sebel karena tuh orang tampil di infotainment melulu. Bener koq!</p>
<p style="text-align: justify;"><img class="aligncenter size-full wp-image-67" title="how-to-fall-in-love" src="http://namanyaicha.com/icha/wp-content/uploads/2009/07/how-to-fall-in-love.jpg" alt="how-to-fall-in-love" width="400" height="297" /></p>
<p style="text-align: justify;">nah, ini juga rupanya yang terjadi pada saya dan kasus <a href="http://namanyaicha.com/siapa-icha/"title="icha" >icha</a>. Secara tidak sadar saya selalu menyebut namanya ketika ada dalam situasi tertentu. Misalnya:</p>
<p style="text-align: justify;">Saya hampir keserempet mobil kijang: &#8220;waahhh..sial hampir ajah keserempet&#8230;.warnanya ijo yah&#8230;mirip mobilnya si icha tuh&#8230;&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Saya denger orang ngomongin tentang kuliahnya: &#8220;iya tuh&#8230;si icha juga cerita&#8230;dia kemarin&#8230;.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Saya mau utang ke tukang teh botol: (*okay yang satu ini tidak mengingatkan saya kepada icha)</p>
<p style="text-align: justify;">anyway, rupanya keadaan ini disadari oleh pacar saya. Maklum deh, kita khan udah pacaran lama jadi udah saling tahu kondisi masing-masing. Termasuk juga urusan cinta-cintaan begini.</p>
<p style="text-align: justify;">Pacar saya: &#8220;Kamu itu aku perhatiin ngomongin icha terus deh?&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Saya: &#8220;masa sih?&#8221; Pasang tampang polos</p>
<p style="text-align: justify;">Pacar saya: &#8220;Iyah, omongan kamu gak lepas dari seputar si icha melulu, kamu suka sama dia yah?&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Saya: &#8220;suka? yah kamu tahu tipe akulah, dan memang nih anak agak masuk kategori aku sih, tapi yah sejauh suka gitu ajah koq&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Kaget saya bisa begitu terus terang dengan pacar saya? Jangan heran, dari awal pacaran kami berusaha untuk saling terbuka. Kalau ternyata diujung perjalanan hubungan, kami bertemu orang lain, maka kami berdua akan saling mendukung. Makanya peristiwa saling cerita bahwa kita ketemu orang yang kita suka bukanlah yang pertama kali. Kami saling cemburu, tapi kami tak pernah menghalangi satu dan lainnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Saya sendiri gak sadar, mungkin intensitas bicara dan cerita saya tentang icha mulai membuat pacar saya khawatir. Karena itu dia penasaran ingin melihat langsung yang namanya icha itu. Tibalah suatu hari dimana pacar saya memutuskan ke kantor untuk melihat dengan mata kepalanya sendiri.</p>
<p style="text-align: justify;">Kami duduk berdua sambil ngobrol dengan kawan-kawan yang lain. Waktu itu hendak mendekati sore, dan Icha turun dari tangga. Sudut mata saya langsung menangkap keberadaannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Saya: &#8220;itu yang namanya icha&#8221; kata saya berbisik kepada pacar saya</p>
<p style="text-align: justify;">Icha pun lewat di depan kami. Tidak persis di depan karena posisi kami agak kepojok.</p>
<p style="text-align: justify;">Pacar saya: &#8220;Oh itu toh!&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Saya: &#8220;Gimana menurut kamu?&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Pacar saya: &#8220;Yup! dia tipe kamu banget! Hati-hati yah&#8230;kemungkinan besar kamu bisa jatuh cinta yang dalam sama dia&#8230;&#8221; katanya sambil matanya tetap menatap Icha yang menghilang di kejauhan.</p>
<p style="text-align: justify;">Hmmm&#8230;jarang-jarang nih pacar saya kasih peringatan begitu! Berarti cewek ini memang punya porsi lebih di hati saya!</p>
<p style="text-align: justify;">Saya: &#8220;Tenang&#8230;saya udah punya kamu&#8230;dan Icha sendiri udah <a href="http://namanyaicha.com/icha-punya-pacar/">punya pacar</a> koq&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Entah kalimat saya yang terakhir itu untuk menenangkan pacar saya atau justru untuk menentramkan perasaan hati saya yang gak tentu ini.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://namanyaicha.com/pacar-saya-pun-tahu-tentang-icha/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Saya gak bisa main billiard?!?</title>
		<link>http://namanyaicha.com/saya-gak-bisa-main-billiard/</link>
		<comments>http://namanyaicha.com/saya-gak-bisa-main-billiard/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 24 Jan 2005 16:14:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admire</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita lalu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://namanyaicha.com/?p=52</guid>
		<description><![CDATA[<p></p><p style="text-align: justify;">Masih ingat donk cerita saya kalau <a href="http://namanyaicha.com/siapa-icha/"title="icha" >Icha</a> itu kemana-mana selalu sama <a title="temannya icha" href=" http://namanyaicha.com/ketika-kenalan-itu/">dua orang kawannya yang lain</a>. Nah, begitupun dengan saya yang hampir selalu pergi dengan dua orang kawan. Bersyukurlah bahwa salah satu kawan saya ini juga sedikit merasa tertarik dengan kawannya si Icha ini. Dan, kawan ini notabene jauh lebih ‘berani’ dibanding saya!Gak heran jika kemudian dua kawan saya itu berhasil mengatur untuk bisa jalan dengan cewek-cewek ini. Seperti saya duga pula Icha pasti ikut!</p>
<p style="text-align: justify;">Icha: “Lo ikutan jalan?” katanya ketika hendak pulang dari kantor.</p>
<p style="text-align: justify;">Saya: “sepertinya begitu karena gue tadi berangkatnya nebeng, jadinya ikut ajah kemana dibawa!”</p>
<p style="text-align: justify;">Icha: “Ooh..ya udah…kalo gitu…sampai ketemu disana&#8230;</p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p></p><p style="text-align: justify;">Masih ingat donk cerita saya kalau <a href="http://namanyaicha.com/siapa-icha/"title="icha" >Icha</a> itu kemana-mana selalu sama <a title="temannya icha" href=" http://namanyaicha.com/ketika-kenalan-itu/">dua orang kawannya yang lain</a>. Nah, begitupun dengan saya yang hampir selalu pergi dengan dua orang kawan. Bersyukurlah bahwa salah satu kawan saya ini juga sedikit merasa tertarik dengan kawannya si Icha ini. Dan, kawan ini notabene jauh lebih ‘berani’ dibanding saya!Gak heran jika kemudian dua kawan saya itu berhasil mengatur untuk bisa jalan dengan cewek-cewek ini. Seperti saya duga pula Icha pasti ikut!</p>
<p style="text-align: justify;">Icha: “Lo ikutan jalan?” katanya ketika hendak pulang dari kantor.</p>
<p style="text-align: justify;">Saya: “sepertinya begitu karena gue tadi berangkatnya nebeng, jadinya ikut ajah kemana dibawa!”</p>
<p style="text-align: justify;">Icha: “Ooh..ya udah…kalo gitu…sampai ketemu disana yah”Wah, manteb nih!</p>
<p style="text-align: justify;">Pikir saya! Akhirnya nge-date juga ama Icha. Well, is not really exactly a date sih, since perginya rame-rame betiga ama temen saya dan mereka pula yang atur. Tapi gak apa-apa deh. Soalnya pas Icha meninggalkan kantor saya lihat mereka hanya cewek bertiga. Dan saya cowok bertiga. Lumayan lah, bisa berpasangan. Lagi pula tadi dia khan nanya toh apakah saya ikut atau tidak!</p>
<p style="text-align: justify;">Yipppiiieee!!!!Kami pun meluncur kearah selatan Jakarta. Tepatnya ke tempat nongkrong yang ada billiard-nya. Heh billiard? Emang saya bisa main billiard? Itu dia problemnya!</p>
<p style="text-align: justify;">Cuma pernah satu kali main beginian, itupun dulu banget jaman SMU. Saya malah gak tahu kalo namanya udah diganti billiard bukannya bola sodok lagi. Mungkin kalau karambol saya masih bisa deh!</p>
<p style="text-align: justify;">Icha: “Lo gak main? Ayo dounk main!”Ajak Icha yang hanya melihat saya nangkring dipojokan.</p>
<p style="text-align: justify;">Bukannya gak mau sih tapi kayaknya malu juga kalo ketahuan gak bisa main. Lagian temen sayah gak oke banget sih, nggak ngertiin banget kalo saya ndak bisa main beginian. Saya pun cuma geleng-geleng sambil senyum-senyum gak jelas.</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Saya kesini mau ngobrol sama kamu Cha, bukan main beginian, sumpah saya gak ngerti!</em> Pikir saya dalam hati.</p>
<p style="text-align: justify;">Tapi setidaknya saya sedikit terhiburlah. Kalau selama ini saya cuma bisa curi-curi pandang takut ketahuan. Sekarang saya bisa pelototin sampai puas. Khan ceritanya saya lagi serius liatin mereka main billiard toh!</p>
<p style="text-align: justify;">Yah, walaupun kalau ada yang perhatiin sih ketahuan banget kalau saya lebih perhatian sama bola matanya Icha yang bagus ituh dibanding bola-bola di atas meja dengan angka gak jelas.TAPI TIBA-TIBA!!!!</p>
<p style="text-align: justify;">Cowok ituh lagi: “hey..hey…udah pada lama? Sorry ya kelamaan!”</p>
<p style="text-align: justify;">WHATTH#$#CK</p>
<p style="text-align: justify;">Masih ingat cowok yang kemarin? Yup cowok itu! Cowok itu ngapain juga pake datang kemari yah. Ganggu orang lagi seneng ajah. Tapi mau bilang apa memang dia cowoknya khan.Begitu datang dia langsung meminjam stick untuk main dengan Icha. Jadilah Icha berpasangan dengannya melawan dua orang kawan saya. Dan sialnya cowok itu jago! Dengan rokok tetap menyelip dibibirnya dia mampu memasukan sekian bola tanpa putus. Icha Nampak tertawa riang menikmati kemenangannya. Sial! Harus turun tangan nih!Saya: “gue main deh!” Sambil meminjam stick menggantikan posisi kawan saya.Saya lagi: “Ini yang dipukul yang mana?” Tanya saya sambil berbisik kepada kawan saya. Maklum newbie jadi gak ngerti.Dan begitulah sepanjang hari itu. Sekuat tenaga saya kerahkan dan seluruh kemampuan dikeluarkan hanya untuk bisa mengalahkan cowok itu. Bidik sana, keker sini, tembak itu, masukan yang ini! Hasilnya? Saya kalah telak! Dan Icha pun tertawa riang membawa kemenangan bersama cowoknya.Hmmm… Masalahnya saya gak bisa main billiard?!? Tunggu pembalasan saya, lain kali kita adu karambol!<br />
Masih ingat donk cerita saya kalau Icha itu kemana-mana selalu sama dua orang kawannya yang lain. Nah, begitupun dengan saya yang hampir selalu pergi dengan dua orang kawan. Bersyukurlah bahwa salah satu kawan saya itu juga sedikit merasa tertarik dengan kawannya si Icha ini. Dan, kawan ini notabene jauh lebih ‘berani’ dibanding saya!</p>
<p style="text-align: justify;">Gak heran jika kemudian dua kawan saya itu berhasil mengatur untuk bisa jalan dengan cewek-cewek ini. Seperti saya duga pula Icha pasti ikut!</p>
<p style="text-align: justify;">Icha: “Lo ikutan jalan?” katanya ketika hendak pulang dari kantor.</p>
<p style="text-align: justify;">Saya: “sepertinya begitu karena gue tadi berangkatnya nebeng, jadinya ikut ajah kemana dibawa!”</p>
<p style="text-align: justify;">Icha: “Ooh..ya udah…kalo gitu…sampai ketemu disana yah”</p>
<p style="text-align: justify;">Wah, manteb nih! Pikir saya! Akhirnya nge-date juga ama Icha. Well, is not really exactly a date sih, since perginya rame-rame betiga ama temen saya dan mereka pula yang atur. Tapi gak apa-apa deh. Soalnya pas Icha meninggalkan kantor saya lihat mereka hanya cewek bertiga. Dan saya cowok bertiga. Lumayan lah, bisa berpasangan. Lagi pula tadi dia khan nanya toh apakah saya ikut atau tidak! Yipppiiieee!!!!</p>
<p style="text-align: justify;"><img class="aligncenter size-full wp-image-55" title="bola-sodok" src="http://namanyaicha.com/icha/wp-content/uploads/2005/01/bola-sodok.jpg" alt="bola-sodok" width="300" height="225" /></p>
<p style="text-align: justify;">Kami pun meluncur kearah selatan Jakarta. Tepatnya ke tempat nongkrong yang ada billiard-nya. Heh billiard? Emang saya bisa main billiard? Itu dia problemnya! Cuma pernah satu kali main beginian, itupun dulu banget jaman SMU. Saya malah gak tahu kalo namanya udah diganti billiard bukannya bola sodok lagi. Mungkin kalau karambol saya masih bisa deh!</p>
<p style="text-align: justify;">Icha: “Lo gak main? Ayo dounk main!”</p>
<p style="text-align: justify;">Ajak Icha yang hanya melihat saya nangkring dipojokan. Bukannya gak mau sih tapi kayaknya malu juga kalo ketahuan gak bisa main. Lagian temen sayah gak oke banget sih, nggak ngertiin banget kalo saya ndak bisa main beginian. Saya pun cuma geleng-geleng sambil senyum-senyum gak jelas.</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Saya kesini mau ngobrol sama kamu Cha, bukan main beginian, sumpah saya gak ngerti! Pikir saya dalam hati.</em></p>
<p style="text-align: justify;">Tapi setidaknya saya sedikit terhiburlah. Kalau selama ini saya cuma bisa curi-curi pandang takut ketahuan. Sekarang saya bisa pelototin sampai puas. Khan ceritanya saya lagi serius liatin mereka main billiard toh! Yah, walaupun kalau ada yang perhatiin sih ketahuan banget kalau saya lebih perhatian sama bola matanya Icha yang bagus ituh dibanding bola-bola di atas meja dengan angka gak jelas.</p>
<p style="text-align: justify;">TAPI TIBA-TIBA!!!!</p>
<p style="text-align: justify;">Cowok ituh lagi: “hey..hey…udah pada lama? Sorry ya kelamaan!”</p>
<p style="text-align: justify;">WHATTH#$#CK</p>
<p style="text-align: justify;">Masih ingat cowok yang kemarin? Yup cowoknya Icha itu! Cowok itu ngapain juga pake datang kemari yah. Ganggu orang lagi seneng ajah. Tapi mau bilang apa memang dia cowoknya khan.</p>
<p style="text-align: justify;">Begitu datang dia langsung meminjam stick untuk main dengan Icha. Jadilah Icha berpasangan dengannya melawan dua orang kawan saya. Dan sialnya cowok itu jago! Dengan rokok tetap menyelip dibibirnya dia mampu memasukan sekian bola tanpa putus. Icha Nampak tertawa riang menikmati kemenangannya. Sial! Harus turun tangan nih!</p>
<p style="text-align: justify;">Saya: “gue main deh!” Sambil meminjam stick menggantikan posisi kawan saya. Langsung menatap tajam ke arah meja billiard dengan serius.</p>
<p style="text-align: justify;">Saya lagi: “Ini yang dipukul yang mana?” Tanya saya sambil berbisik kepada kawan saya. Maklum newbie jadi gak ngerti.</p>
<p style="text-align: justify;">Temen saya: &#8220;Yaaahhh&#8230;elo&#8230;muka lo udah serius gitu gue kirain lo bisa&#8230;&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Saya juga: &#8220;Ssssttt&#8230;berisik&#8230;udah kasih tahu ajah yang mana yang musti dipukul&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Dan begitulah sepanjang hari itu. Sekuat tenaga saya kerahkan dan seluruh kemampuan dikeluarkan hanya untuk bisa mengalahkan cowok itu. Bidik sana, keker sini, tembak itu, masukan yang ini! Hasilnya? Saya kalah telak! Dan Icha pun tertawa riang membawa kemenangan bersama cowoknya.</p>
<p style="text-align: justify;">Hmmm… Masalahnya saya gak bisa main billiard?!? Tunggu pembalasan saya, lain kali kita adu karambol!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://namanyaicha.com/saya-gak-bisa-main-billiard/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
