Buka-bukaan soal Icha

by admire on August 15, 2005

Setelah janjian kemarin, Hari itu saya berusaha untuk tampil lumayan oke. Sepertinya setengah botol minyak wangi saya habiskan supaya bisa tampil seger di depan Icha. Perasaan sama pacar sendiri saya gak pernah bertingkah laku seperti ini. Tapi yah cewek kecil satu itu memang punya daya tarik yang beda untuk saya.

Pagi-pagi saya sudah pergi dari rumah, berhubung daerah rumah Icha agak rawan macet. Saya gak mau dia menunggu terlalu lama. First impression matter man! Sayangnya entah kenapa hari itu jalanan ndak terlalu macet. Dari pada malu kepagian saya terpaksa nunggu di pinggir jalan agak jauh dari rumah Icha. Bareng sama adik-adik SD yang berangkat ke sekolah. Biar kesannya saya gak ngarep banget gitu. Selang beberapa lama hape saya berbunyi.

Icha: “udah sampai mana?”

Saya: “udah deket koq Cha…bentar lagi neh” padahal mah saya udah nyampe dari tadi.

Icha: “kalo dah sampai miss call aja yah”

Saya: “okay”

Saya pun menyalakan mobil, dan menjalankan ke depan rumahnya, dan menghubunginya untuk sekedar miss call. Tak lama kemudian Icha keluar.

God damn, she is gorgeous, so cute. Never seen her like this before. Untungnya saya bisa jaga sikap untuk gak menganga di depan wajahnya.

Icha: “pagi…” katanya dengan senyum

Saya: “pagi…sorry lama”

Icha: “nggak koq gue juga baru kelar”

Saya pun menyalakan mobil, tanpa berani menatapnya lagi. Malu rasanya kalau dia sampai tahu saya sangat suka dengan penampilannya hari ini.

Icha: “cewek lo gak papa nih…lo nganterin gue ke kampus?” katanya tiba-tiba

Saya: “gue sih bilang mau anterin lo!”

Yup, you might call me crazy! Tapi saya memang cerita semuanya tentang apapun sama icha.com/pacar-saya-pun-tahu-tentang-icha/”>pacar saya. Termasuk hari ini saya mau mengantar Icha. Pacar saya hanya berpesan hati-hati, itu saja!

Icha: “terus dia gak keberatan?”

Saya: “hmm…sepertinya sih nggak yah…Kebetulan searah dan Cuma nganterin ke kampus toh” kata saya membela diri.

Icha: “gue juga punya banyak temen cowok sih yang udah punya pacar tapi masih sering ngaterin, kebetulan cewek-ceweknya mereka juga dikenalin sama gue”

Saya: “lo sendiri cowok lo gak marah?”

Icha: “ah dia sih tergantung gimana guenya koq”

Saya: “pacar yang pengertian” kata saya lagi.

Icha: “sebenernya sih biasa ajah, dia masih kayak anak kecil lebih tepatnya. Belum terlalu dewasa jadi semua masih tergantung gue juga”

Saya: “yah soalnya elo secara personality memang terlalu kuat seh”

Icha: “huh…terlalu kuat gimana maksudnya?”

Saya: “ya elo khan Cuma penampilan ajah yang kayak ABG, tapi sebenarnya pemikiran elo jauh melebihi kapasitas penampilannya yang masih imut-imut begitu”

Dan obrolan kami pun berlanjut. Saya menjelaskan panjang lebar tentang bagaimana Icha secara personal. Bagaimana dia punya kepribadian yang kuat sehingga orang-orang lain cenderung ‘tunduk’ kepadanya. Saya pun berpendapat ia pasti sering ditunjuk sebagai ‘leader’ dalam situasi apapun. Tapi sayangnya orang hanya bisa mencapai kulit luarnya Icha. Dan seringkali hanya berhubungan dengannya sebatas kawan main. Mereka tidak tahu bahwa pemikiran-pemikiran besar ada di dalam tubuhnya yang kecil itu. Bagaimana ia sering berpikir cerdas dan berpikir besar jauh melebihi posisinya sekarang. Bagaimana pandangannya akan suatu hal kadang melebihi tindakannya yang ditunjukannya. Dan obrolan itu terjadi lebih dari setengah jam, tanpa terasa.

Icha: “gilaa..gue kagum…perasaan kita jarang ngobrol, tapi elo koq bisa tahu gue kayak gitu?”

Saya: “gue memang sedikit sensitif untuk merasakan personality seseorang”

Icha: “cowok gue ajah gak pernah bisa memahami gue seperti itu, tapi gue juga gak pernah memaksanya untuk bisa memahami seperti elo gitu. Makanya paling kalau jalan kita cuma cerita-cerita keseharian dan lebih banyak dia yang cerita. Gue sendiri lebih banyak diam karena sepertinya dia memang belum paham tentang gue, tapi lo hebat juga bisa tahu gue gitu”

Saya hebat. DUIIINNGGGG…serasa saya terlempar dari kursi pengemudi dan terbang ke udara dipuji Icha seperti itu.

Saya: “yah gue setengah paranormal kali” kata saya mencoba cuek dan menenagkan diri.

Icha: “iyah jujur elo orang yang paling paham tentang gue, padahal kayaknya elo orang yang paling jarang ngobrol sama gue”

If you only knew Cha…how much I adore you!

Leave a Comment

Previous post: Janji untuk pergi berdua!

Next post: Saya ingin sekali menciumnya

</