Ca kalau udah selesai, telfon gue yah. Gue udah sampai karawaci nih.
Saya mengirimkan SMS itu ke Icha ketika sudah di area parkir Mal Karawaci, tempat kami janjian setelah Icha di wawancara. Tak sampai setengah jam handphone saya berbunyi.
”Halo Cha…udah kelar?” tanya saya.
”udah…lo dah sampai yah?”
”udah…lo dimananya?”
”Ketemuan deket twenty one aja! Gue disitu!”
Tutup telfon. Nyisir-nyisir dikit kayak pemain film jaman dulu. Nyengir kuda di depan spion mobil sambil pamer gigi berusaha setting senyum kalau nanti ketemu Icha. Sepertinya sih udah okeh. Saya pun beranjak meninggalkan mobil.
Begitu sampai di depan 21…I saw her…
Black dress, with a short skirt…saya selalu mengasosiasikan warna hitam dengan sexy.
And now she is wearing those color, hmmmm. Saya coba untuk bersikap lebih santai. Gak lucu kalau dia lihat saya yang lagi kayak ayam kena ayan karena terpesona gak jelas gini.
“Hai…dah lama?” katanya menyapa saya lebih dulu.
“Oh nggak koq…baru…baru…” kata saya mencoba menarik nafas dalam.
“Eh makan dulu yuk…gue laper belum sempet sarapan!”
“Okay…tapi gue kenyang sih gue temenin aja deh…”
Makan apa? Ayam goreng Fatmawati. Loh katanya di Karawaci? Ya sudahlah ini tak perlu di bahas. Ngerti bisnis franchise toh.
“Lo gak makan nih?” kata Icha setelah pesanannya datang.
“nggak gue dah sarapan soalnya…”
Anyway, I like watching her eating her food. Karena katanya sifat seseorang itu bisa dilihat dari cara makannya. Gimana dengan Icha? Okay, Kalau ada yang membayangkan gaya makan putri kerajaan dengan table manner yang tertata, jangan lantas memandingkan dengan Icha.
Cewek satu itu bisa makan dengan santai dan terlihat sangat menikmati ayamnya. She even sometimes leave the spoon and use her hand to grab the chiken. Asik deh pokoknya. Saya sih berharap jadi tuh ayam yang bisa menari-nari dibibirnya Icha. Tapi yah setelah inget tuh ayam melalui proses pengorengan super panas dulu, saya pun mengurungkan niat menjadi ayam goreng.
“Lo buru-buru gak?” tanya Icha kemudian setelah ia menyelesaikan makannya.
“Nggak juga, kenapa?” tanya saya kemudian.
“Gue mau keliling dulu ada barang yang mau dibeli” katanya lagi.
“Oh ya udah…nggak masalah koq…gue temenin” Padahal dalam hati saya kegirangan.
Dan cerita kencan ini pun belum berakhir.
