Rasanya baru kemarin saya menyiapkan pesta pernikahan saya. Tidak terasa ternyata hari besar itu akan datang dalam hitungan minggu. Hari ini kami (saya dan calon istri) baru selesai pulang dari mengambil souvenir untuk resepsi kami nanti.
Kata orang sih makin dekat hari H, makin gak karuan pula perasaan calon mempelai. Itu kenapa buat yang mau menikah selalu dikasih wejangan oleh orang-orang tua, supaya semua berjalan lancar. Ibu saya juga berpesan yang sama.
“Kamu kalau menyebrang tengok kiri kanan, hati-hati hari pernikahannya udah dekat!” kata ibu saya berpesan.
Yah, walaupun saya gak sepenuhnya setuju dengan nasehat ini. Karena nasihat itu berarti pula setelah menikah saya kalo nyebrang boleh gak tengok kiri kanan dan langsung nyelonong kayak kebo. Dan kalo kesenggol mobil saya tinggal bilang “saya sudah nikah!”. Gak gitu juga khan?
Anyway, berbicara soal perasaan yang gak karuan, saya pun merasakaannya. Tapi perasaan yang satu ini aneh buat saya, karena masih melibatkan Icha yang sama sekali gak ada hubungannya dengan pernikahan saya. Okay, ini mungkin kedengerannya jahat, saya mau (bener-bener mau alias kepengen) menikah dengan calon istri saya ini, tapi entah kenapa saya masih aja mikirin si Icha.
Apa ini normal? Apa berarti saya jahat sama pacar saya? Apa mungkin pacar saya juga sedang memikirkan orang lain? Mungkin aja bener, jadi kita bisa diskusi soal yang satu ini. Makanya saya memberanikan diri untuk membuka omongan. [Read the full article…]
{ 0 comments }
