Muka Icha terlihat serius ketika menerima telefon itu. Saya terus menjalankan mobil menuju rumahnya.
Icha: “orang rumah telfon, katanya ada cowok gue di rumah…”
Damn…cowok itu lagi. He is always stand between us. Padahal kalau saja gak ada telefon itu saya bakal bilang terang-terangan ke Icha, kalau saya suka sama dia.
Saya: “owh okay…gue anter lo pulang”
Icha: “tapi kalau elo masih mau jalan, gak apa-apa…dia bisa nunggu khan”
Saya menarik nafas panjang. Tetep saja Icha berharap cowok itu menunggunya di rumah. Mungkin lain ceritanya kalau dia bilang,
“gue juga gak suka sama dia, bau ketek!”
Atau
“gue gak mau sama dia, soalnya mirip anwar fuadi”
Atau kalimat-kalimat sejenis yang bikin ilfil lainnya, mungkin saya akan percaya diri untuk bilang saya suka sama dia. Tapi sayangnya nggak. Cowok itu ada dan akan selalu ada dipikirannya. Sama seperti Icha yang ada di pikiran saya.
Saya: “gak apa-apa Cha…elo gue anterin pulang aja, gue gak mau elo jadi berantem sama dia gara-gara gue”
Icha: “ya udah gue di depan jalan aja gak usah masuk ke dalem”
Saya: “loh kenapa?”
Icha: “dia juga suka marah kalau gue cerita tentang elo, apalagi kalau kita jalan begini” kata Icha cepat.
Dan mobil saya tepat tiba di depan jalan rumah Icha.
Saya: “thank you ya Cha…for everything…”
Icha: “sama-sama…nanti jadi suami orang yang baik yah…”
Saya pun tersenyum mendengar kalimat itu.
Saya: “oh ya…besok gue balik ke rumah elo anterin undangan yah”
Icha: “okay, gue tunggu yah…”
Pintu mobil tertutup dan Icha pun pergi berlalu. God I’m sure gonna miss her so much!
{ 0 comments }
